BisnisManado.com, Jakarta – Kenaikan tarif ekspor yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) dapat menyebabkan lonjakan harga iPhone secara signifikan.
Perubahan dalam lanskap perdagangan global dan kebijakan tarif ini berpotensi membuat harga iPhone melambung tinggi, dengan prediksi kenaikan mencapai 30-40% bagi konsumen.
“Faktanya, sebagian besar iPhone masih dibuat di China yang terkena tarif hingga 54%. Jika retribusi tersebut berlanjut, Apple memiliki pilihan yang sulit: menyerap biaya tambahan atau meneruskannya kepada pelanggan,” ujar seorang analis dikutip dari CNBC Indonesia (7/4/2025).
Dampak dari kebijakan ini sudah terasa, dengan saham Apple yang ditutup turun 9,3% pada hari Kamis, mencatatkan penurunan terburuk mereka serita:ejak Maret 2020. iPhone, yang terjual lebih dari 220 juta unit per tahun, menghadapi tantangan besar, terutama di pasar utama seperti AS, China, dan Eropa.
Model iPhone 16 termurah yang baru diluncurkan di AS dibanderol dengan harga US$799 (sekitar Rp 13 juta), namun analis memprediksi harga ini bisa melonjak hingga US$1.142, dengan kenaikan mencapai 43%. Sementara itu, model iPhone 16 Pro Max yang lebih mahal, dengan layar 6,9 inci dan penyimpanan 1 terabyte, yang saat ini dijual seharga US$1599, bisa menyentuh harga hampir US$2.300.
“Seluruh masalah tarif China ini benar-benar bertentangan dengan harapan kami bahwa ikon Amerika Apple akan bisa mengatasi tekanan ini seperti yang mereka lakukan sebelumnya,” ungkap Barton Crockett, analis di Rosenblatt Securities, yang dilansir oleh Reuters.
Di sisi lain, penjualan iPhone di pasar utama Apple mengalami penurunan. Fitur-fitur terbaru, seperti Apple Intelligence yang membantu pengguna meringkas pemberitahuan dan menulis ulang email, gagal menarik minat konsumen.
“Kami mengharapkan Apple untuk menunda kenaikan besar pada ponsel hingga musim gugur ini, bersamaan dengan peluncuran iPhone 17, seperti yang biasa mereka lakukan,” kata Angelo Zino, analis ekuitas di CFRA Research.
Neil Shah, salah satu pendiri Counterpoint Research, menambahkan bahwa Apple kemungkinan perlu menaikkan harga rata-rata iPhone sekitar 30% untuk mengimbangi dampak tarif. “Perhitungan kami tentang tarif Hari Pembebasan Trump menunjukkan bahwa hal ini bisa sangat merugikan Apple, dengan potensi kerugian hingga US$40 miliar,” kata Crockett lagi.
(**/Thw)









Tinggalkan Balasan