Penulis : Samuel Excelsio Mare Takatelide
Mahasiswa IAKN MANADO, Pendidikan Musik Gereja
Email: [email protected]

Abstrak
Masamper merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Kepulauan Sangihe yang memiliki nilai budaya, sosial, pendidikan, dan religius yang tinggi. Kesenian ini diwariskan secara turun-temurun sebagai media komunikasi, hiburan, pendidikan karakter, serta mempererat hubungan antaranggota masyarakat. Namun, perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi, globalisasi budaya, serta perubahan gaya hidup menyebabkan minat generasi muda terhadap kesenian Masamper semakin menurun.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab kurangnya minat generasi muda terhadap kesenian Masamper, dampak yang ditimbulkan terhadap keberlangsungan budaya lokal, serta strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kembali minat generasi muda dalam melestarikan kesenian tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif melalui studi pustaka dan analisis berbagai literatur yang berkaitan dengan kebudayaan daerah, pendidikan seni, dan pelestarian budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya minat generasi muda dipengaruhi oleh perkembangan budaya populer, minimnya pendidikan budaya lokal, kurangnya regenerasi pelaku seni, terbatasnya ruang pertunjukan, serta rendahnya pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi budaya. Kondisi tersebut mengakibatkan semakin berkurangnya pelaku seni Masamper dan melemahnya proses pewarisan budaya antargenerasi. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lemba gapendidikan, gereja, komunitas budaya, serta masyarakat untuk mengembangkan inovasi pelestarian Masamper melalui pendidikan, festival budaya, media sosial, dan digitalisasi kesenian sehingga Masamper tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

I. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman budaya yang sangat kaya. Keanekaragaman tersebut tercermin melalui bahasa daerah, adat istiadat, tarian, musik tradisional, sastra lisan, hingga berbagai bentuk kesenian yang berkembang di setiap daerah. Budaya bukan hanya menjadi identitas suatu masyarakat, tetapi juga merupakan warisan yang mengandung nilai sejarah, pendidikan, moral, sosial, dan spiritual. Oleh karena itu, pelestarian budaya menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat agar identitas bangsa tetap terjaga di tengah arus globalisasi.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menegaskan bahwa kebudayaan nasional merupakan investasi bangsa yang harus dilestarikan, dikembangkan, dimanfaatkan, dan dibina secara berkelanjutan. Kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pembentukan karakter bangsa dan penguatan identitas nasional. Dalam konteks tersebut, seni tradisional memiliki peranan penting sebagai media pewarisan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda.

Salah satu kesenian tradisional yang menjadi identitas masyarakat Kepulauan Sangihe adalah Masamper. Masamper merupakan seni vokal kelompok yang dilakukan secara berbalas-balasan dengan memadukan unsur musik, syair, gerakan sederhana, dan ekspresi kebersamaan. Pada awal perkembangannya, Masamper banyak digunakan sebagai media komunikasi antarwarga, hiburan masyarakat, penyampaian pesan moral, serta sarana mempererat hubungan sosial dalam berbagai kegiatan adat maupun keagamaan.

Dalam perkembangannya, Masamper mengalami perubahan fungsi. Jika dahulu Masamper menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sangihe, saat ini keberadaannya mulai menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah semakin menurunnya minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikan kesenian tersebut. Kondisi ini terlihat dari semakin sedikitnya kelompok Masamper yang beranggotakan anak muda, rendahnya partisipasi generasi muda dalam festival budaya, serta minimnya regenerasi pelaku seni di berbagai daerah.

Perubahan pola kehidupan masyarakat modern memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap eksistensi seni tradisional. Kemajuan teknologi digital memungkinkan generasi muda mengakses berbagai bentuk hiburan dari seluruh dunia secara cepat dan mudah. Musik populer, media sosial, permainan daring, serta berbagai konten digital menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Akibatnya, perhatian terhadap seni tradisional perlahan mulai berkurang karena dianggap kurang menarik dibandingkan budaya populer yang lebih modern.

Selain perkembangan teknologi, sistem pendidikan juga memberikan pengaruh terhadap pelestarian budaya daerah. Muatan lokal mengenai budaya Sangihe, termasuk Masamper, belum sepenuhnya menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di sekolah. Banyak peserta didik yang mengenal musik modern lebih baik dibandingkan kesenian daerahnya sendiri. Kondisi tersebut menyebabkan pengetahuan dan kecintaan terhadap budaya lokal semakin menurun.

Faktor keluarga juga memiliki peranan penting dalam proses pewarisan budaya. Dahulu, Masamper dipelajari secara alami melalui lingkungan keluarga dan masyarakat. Anak-anak terbiasa mendengarkan orang tua atau kerabat menyanyikan lagu-lagu Masamper dalam berbagai kegiatan adat maupun keagamaan. Namun saat ini, perubahan gaya hidup menyebabkan interaksi budaya dalam keluarga semakin berkurang sehingga proses pewarisan budaya tidak berlangsung secara optimal.

Di sisi lain, perkembangan industri hiburan memberikan ruang yang lebih besar bagi budaya populer dibandingkan seni tradisional. Berbagai platform digital lebih banyak menampilkan musik modern yang diproduksi secara profesional sehingga seni tradisional sulit bersaing dalam menarik perhatian generasi muda. Padahal apabila dikemas secara kreatif, Masamper memiliki potensi besar untuk dikenal secara luas melalui media digital.

Kurangnya minat generasi muda terhadap Masamper bukan hanya berdampak pada berkurangnya jumlah pelaku seni, tetapi juga mengancam keberlangsungan identitas budaya masyarakat Sangihe. Apabila kondisi ini terus berlangsung tanpa adanya upaya pelestarian yang berkelanjutan, maka bukan tidak mungkin Masamper hanya akan dikenal sebagai warisan sejarah tanpa memiliki pelaku aktif di masa mendatang.

Pelestarian Masamper memerlukan kerja sama berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, lembaga pendidikan, gereja, komunitas seni, hingga masyarakat. Pendidikan budaya sejak usia dini, penyelenggaraan festival budaya, pelatihan bagi generasi muda, digitalisasi pertunjukan Masamper, serta pemanfaatan media sosial menjadi beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kembali minat generasi muda terhadap kesenian tersebut.

Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam faktor-faktor penyebab menurunnya minat generasi muda terhadap kesenian Masamper, menganalisis dampaknya terhadap pelestarian budaya lokal, serta merumuskan berbagai strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan partisipasi generasi muda dalam menjaga keberlangsungan kesenian Masamper sebagai salah satu identitas budaya masyarakat Kepulauan Sangihe.

II. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu memberikan gambaran secara mendalam mengenai fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, khususnya berkaitan dengan menurunnya minat generasi muda terhadap kesenian Masamper sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Kepulauan Sangihe. Pendekatan ini tidak berfokus pada angka-angka statistik, tetapi lebih menekankan pada pemahaman terhadap makna, pengalaman, persepsi, serta faktor-faktor yang memengaruhi suatu fenomena budaya.

Menurut Sugiyono (2023), penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah, di mana peneliti bertindak sebagai instrumen utama dalam pengumpulan data. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis fakta-fakta atau karakteristik suatu objek penelitian tanpa melakukan manipulasi terhadap variabel yang diteliti. Dengan demikian, penelitian ini berupaya mendeskripsikan kondisi nyata mengenai eksistensi kesenian Masamper serta berbagai faktor yang menyebabkan rendahnya minat generasi muda dalam melestarikannya.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research). Studi kepustakaan dilakukan melalui pengumpulan berbagai sumber ilmiah berupa buku, jurnal nasional maupun internasional, artikel ilmiah, dokumen pemerintah, hasil penelitian terdahulu, serta sumber-sumber lain yang relevan dengan kebudayaan daerah, pendidikan seni, pelestarian budaya, dan perkembangan generasi muda di era digital. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kritis untuk menemukan hubungan antar konsep serta memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai permasalahan penelitian.

Selain studi kepustakaan, penelitian ini juga menggunakan pendekatan fenomenologis dalam memahami fenomena sosial yang berkembang di masyarakat. Pendekatan fenomenologi berusaha memahami pengalaman individu maupun kelompok terhadap suatu fenomena berdasarkan realitas yang mereka alami. Dalam konteks penelitian ini, fenomenologi digunakan untuk menggambarkan bagaimana masyarakat, pelaku seni, pendidik, serta generasi muda memandang keberadaan kesenian Masamper di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

Objek penelitian ini adalah minat generasi muda terhadap kesenian Masamper sebagai salah satu bentuk seni tradisional masyarakat Kepulauan Sangihe. Fokus penelitian diarahkan pada beberapa aspek utama, yaitu:
1. Kondisi eksistensi kesenian Masamper di kalangan generasi muda.
2, Faktor-faktor penyebab kurangnya minat generasi muda terhadap kesenian Masamper.
3. Dampak menurunnya minat generasi muda terhadap pelestarian budaya daerah.
4. Strategi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kembali minat generasi muda dalam melestarikan kesenian Masamper.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:

1. Studi Literatur
Pengumpulan data dilakukan dengan mengkaji berbagai referensi yang berkaitan dengan budaya Masamper, pendidikan seni budaya, teori minat belajar, pelestarian budaya lokal, serta penelitian terdahulu yang membahas seni tradisional Indonesia. Literatur yang digunakan berasal dari buku akademik, jurnal ilmiah, skripsi, tesis, disertasi, maupun dokumen resmi pemerin

2. Dokumentasi
Teknik dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan berbagai dokumen pendukung seperti foto kegiatan Masamper, laporan festival budaya, arsip pemerintah daerah, dokumentasi kegiatan gereja, video pertunjukan Masamper, hingga informasi yang dipublikasikan melalui media massa dan media digital. Dokumentasi ini digunakan untuk memperkuat analisis mengenai perkembangan kesenian Masamper pada masa kini.

3. Analisis Dokumen
Peneliti menganalisis berbagai dokumen yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah mengenai pelestarian budaya, kurikulum pendidikan seni budaya, serta program-program pelestarian budaya yang telah dilaksanakan oleh pemerintah daerah maupun komunitas budaya.

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Analisis dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, interpretasi data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilih informasi yang relevan dengan fokus penelitian. Selanjutnya data disajikan secara sistematis dalam bentuk uraian sehingga memudahkan proses interpretasi. Tahap terakhir adalah menarik kesimpulan berdasarkan hubungan antara teori dan fakta yang ditemukan selama proses penelitian.

Dalam penelitian ini digunakan beberapa landasan teori sebagai dasar analisis, antara lain teori pelestarian budaya, teori minat, teori perubahan sosial, teori globalisasi budaya, serta teori pendidikan seni. Teori-teori tersebut digunakan untuk menjelaskan hubungan antara perkembangan zaman dengan perubahan minat generasi muda terhadap kesenian tradisional.

Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, yaitu membandingkan berbagai referensi ilmiah yang membahas topik serupa sehingga informasi yang diperoleh memiliki tingkat validitas yang tinggi. Selain itu, peneliti juga melakukan analisis kritis terhadap berbagai hasil penelitian terdahulu untuk menemukan persamaan maupun perbedaan temuan penelitian sehingga menghasilkan pembahasan yang lebih objektif.

Melalui pendekatan kualitatif deskriptif ini diharapkan penelitian mampu memberikan gambaran yang utuh mengenai kondisi kesenian Masamper saat ini, penyebab menurunnya minat generasi muda, dampak yang ditimbulkan terhadap pelestarian budaya lokal, serta berbagai strategi yang dapat diterapkan oleh pemerintah, lembaga pendidikan, gereja, komunitas seni, dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan kesenian Masamper sebagai identitas budaya masyarakat Kepulauan Sangihe.

(Foto : Antaranews.com)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil kajian literatur mengenai pelestarian budaya lokal, perkembangan seni tradisional, serta berbagai penelitian mengenai kesenian Masamper di Kepulauan Sangihe, ditemukan bahwa eksistensi Masamper saat ini mengalami berbagai tantangan, terutama berkaitan dengan rendahnya minat generasi muda untuk mempelajari dan melestarikannya. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta masuknya budaya populer menjadi faktor yang memengaruhi perubahan pola pikir dan preferensi generasi muda terhadap seni tradisional.

Meskipun demikian, Masamper masih memiliki potensi besar untuk terus berkembang apabila dilakukan berbagai upaya pelestarian yang melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, gereja, komunitas seni, dan masyarakat. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dibahas berdasarkan beberapa aspek utama berikut.

A. Gambaran Umum Kesenian Masamper
Masamper merupakan salah satu kesenian vokal tradisional masyarakat Kepulauan Sangihe yang diwariskan secara turun-temurun sejak ratusan tahun yang lalu. Pada awalnya Masamper berkembang sebagai media komunikasi masyarakat pesisir yang dilakukan melalui nyanyian secara berbalas-balasan. Seiring perkembangan waktu, Masamper tidak hanya menjadi hiburan masyarakat, tetapi juga digunakan dalam berbagai kegiatan adat, keagamaan, penyambutan tamu, pesta rakyat, hingga perlombaan seni budaya.

Keunikan Masamper terletak pada perpaduan antara nyanyian kelompok, syair yang sarat makna, harmonisasi suara, gerakan sederhana, serta interaksi antarkelompok yang dilakukan secara bergantian. Syair-syair Masamper umumnya mengandung pesan moral, nilai persaudaraan, kasih, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, rasa syukur kepada Tuhan, serta kecintaan terhadap tanah kelahiran.

Dalam masyarakat Sangihe, Masamper memiliki fungsi yang sangat penting, antara lain sebagai media pendidikan karakter, media komunikasi sosial, sarana hiburan, media pewarisan budaya, serta alat pemersatu masyarakat. Melalui kegiatan Masamper, masyarakat belajar menghargai kebersamaan, kerja sama, disiplin, tanggung jawab, dan rasa saling menghormati.

Namun demikian, perkembangan zaman telah menyebabkan fungsi tersebut mulai mengalami perubahan. Jika dahulu hampir setiap kegiatan masyarakat diiringi dengan pertunjukan Masamper, saat ini keberadaannya lebih banyak dijumpai pada festival budaya atau perlombaan tertentu. Kondisi ini menunjukkan bahwa eksistensi Masamper mulai mengalami penurunan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

 

B. Faktor Penyebab Kurangnya Minat Generasi Muda terhadap Kesenian Masamper.
Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat generasi muda terhadap kesenian Masamper.

1. Pengaruh Globalisasi dan Budaya Populer
Globalisasi membawa perubahan besar terhadap pola konsumsi hiburan masyarakat. Generasi muda saat ini lebih mudah mengakses berbagai jenis musik modern melalui internet dibandingkan mengenal seni tradisional daerahnya sendiri.

Musik pop, K-Pop, hip-hop, EDM, maupun berbagai tren media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari remaja. Akibatnya, seni tradisional seperti Masamper sering dianggap kuno, kurang menarik, bahkan tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Fenomena tersebut menyebabkan waktu yang seharusnya digunakan untuk mempelajari budaya lokal beralih kepada hiburan digital yang lebih praktis dan mudah diakses.

2. Perkembangan Teknologi Digital
Kemajuan teknologi memberikan dampak positif sekaligus negatif terhadap pelestarian budaya.

Di satu sisi teknologi dapat menjadi media promosi budaya. Namun di sisi lain, penggunaan media sosial yang berlebihan membuat generasi muda lebih tertarik membuat konten mengikuti tren daripada mempelajari seni tradisional.

Banyak generasi muda yang mengenal penyanyi internasional, tetapi tidak mengenal kelompok Masamper yang berasal dari daerahnya sendiri. Hal ini menunjukkan rendahnya literasi budaya lokal di kalangan masyarakat muda.

3. Kurangnya Pendidikan Budaya Lokal
Sekolah memiliki peranan penting dalam membentuk kecintaan peserta didik terhadap budaya daerah.

Namun kenyataannya pembelajaran seni budaya lebih banyak membahas materi umum dibandingkan memperkenalkan kesenian lokal seperti Masamper.

Akibatnya, banyak siswa yang tidak memahami sejarah, fungsi, nilai budaya, maupun teknik bernyanyi dalam Masamper.

Kurangnya kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan budaya daerah juga menyebabkan kesempatan belajar menjadi semakin terbatas.

4. Minimnya Regenerasi Pelaku Seni
Regenerasi merupakan faktor penting dalam menjaga keberlangsungan suatu kesenian.

Saat ini sebagian besar pelaku Masamper berasal dari kelompok usia dewasa hingga lanjut usia, sedangkan keterlibatan remaja masih relatif sedikit.

Kurangnya minat generasi muda menyebabkan jumlah pelatih maupun anggota kelompok Masamper semakin berkurang sehingga proses pewarisan budaya tidak berlangsung secara optimal

5. Perubahan Gaya Hidup
Kesibukan sekolah, kuliah, pekerjaan, serta aktivitas di media sosial membuat generasi muda memiliki waktu yang terbatas untuk mengikuti latihan Masamper.

Selain itu, sebagian generasi muda menganggap latihan Masamper membutuhkan komitmen yang tinggi karena harus dilakukan secara rutin agar menghasilkan harmonisasi suara yang baik.

Hal tersebut membuat mereka lebih memilih aktivitas lain yang dianggap lebih praktis.

6. Kurangnya Dukungan Lingkungan
Lingkungan keluarga memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan minat anak terhadap budaya.

Pada masa lalu orang tua sering mengajak anak mengikuti kegiatan Masamper dalam acara adat maupun gereja.

Namun saat ini kebiasaan tersebut mulai berkurang sehingga anak-anak tidak lagi terbiasa mendengar maupun menyanyikan lagu-lagu Masamper sejak usia dini.

 

C. Dampak Kurangnya Minat Generasi Muda terhadap Pelestarian Masamper.

Menurunnya minat generasi muda memberikan dampak yang cukup besar terhadap keberlangsungan kesenian Masamper.

1. Berkurangnya Pelaku Seni
Semakin sedikit generasi muda yang bergabung dalam kelompok Masamper menyebabkan jumlah pelaku seni terus menurun.

Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang maka akan terjadi kesenjangan regenerasi antara generasi tua dan generasi muda.

2. Hilangnya Identitas Budaya Daerah
Masamper merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Sangihe.

Apabila tidak lagi dipelajari oleh generasi muda maka identitas budaya tersebut perlahan akan memudar bahkan berpotensi hilang.

3. Menurunnya Pewarisan Nilai Budaya
Melalui Masamper masyarakat belajar tentang kerja sama, gotong royong, saling menghormati, disiplin, serta nilai religius.

Apabila kesenian ini mulai ditinggalkan maka proses pewarisan nilai-nilai tersebut kepada generasi berikutnya juga akan berkurang.

4. Berkurangnya Aktivitas Budaya Masyarakat
Kurangnya kelompok Masamper menyebabkan berbagai kegiatan budaya menjadi semakin jarang dilaksanakan.

Festival budaya yang dahulu ramai diikuti masyarakat mulai mengalami penurunan jumlah peserta.

Hal tersebut mengurangi ruang interaksi sosial masyarakat melalui seni budaya.

5. Menurunnya Potensi Pariwisata Budaya
Masamper memiliki potensi menjadi daya tarik wisata budaya di Sulawesi Utara.

Apabila jumlah pelaku seni semakin sedikit maka kesempatan mengembangkan pariwisata budaya juga ikut menurun sehingga berdampak terhadap perekonomian Masyarakat.

(Foto : Istimewa)

D. Strategi Meningkatkan Minat Generasi Muda terhadap Kesenian Masamper.

Berdasarkan hasil kajian, terdapat beberapa strategi yang dapat dilakukan.

1. Integrasi Masamper dalam Pendidikan
Sekolah dapat memasukkan Masamper sebagai materi pembelajaran seni budaya maupun kegiatan ekstrakurikuler.

Melalui pembelajaran tersebut peserta didik memperoleh pengalaman langsung mengenai sejarah, teknik vokal, harmonisasi, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

2. Festival Budaya yang Berkelanjutan
Pemerintah daerah perlu menyelenggarakan festival Masamper secara rutin dengan melibatkan pelajar, mahasiswa, komunitas seni, serta masyarakat umum.

Festival dapat menjadi sarana regenerasi sekaligus meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap budaya daerah.

3. Pemanfaatan Media Digital
Media sosial seperti YouTube, Instagram, Facebook, dan TikTok dapat dimanfaatkan sebagai sarana promosi Masamper.

Konten yang dikemas secara kreatif akan lebih mudah menarik perhatian generasi muda dibandingkan penyajian secara konvensional.

4. Pelatihan dan Workshop
Pelaksanaan pelatihan vokal Masamper, seminar budaya, workshop musik tradisional, serta kemah budaya dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan generasi muda.

5. Peran Gereja
Di masyarakat Sangihe, gereja memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sosial.

Melalui kegiatan pemuda, paduan suara, maupun perayaan gerejawi, Masamper dapat diperkenalkan kembali sebagai bagian dari pelayanan dan pelestarian budaya.

6. Dukungan Pemerintah Daerah
Pemerintah perlu memberikan bantuan berupa pembinaan kelompok seni, penyediaan fasilitas latihan, bantuan perlengkapan, penghargaan kepada seniman, serta program pelestarian budaya yang berkelanjutan.

7. Kolaborasi dengan Musik Modern
Salah satu inovasi yang dapat dilakukan adalah menggabungkan unsur Masamper dengan aransemen musik modern tanpa menghilangkan ciri khasnya.

Kolaborasi ini dapat menarik perhatian generasi muda sekaligus memperluas jangkauan promosi budaya melalui platform digital.

Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya minat generasi muda terhadap kesenian Masamper merupakan akibat dari kombinasi berbagai faktor sosial, budaya, pendidikan, dan teknologi. Perubahan gaya hidup masyarakat modern telah menggeser perhatian generasi muda dari budaya lokal menuju budaya populer yang lebih mudah diakses melalui media digital. Selain itu, kurangnya pembelajaran budaya lokal di lingkungan keluarga maupun sekolah menyebabkan proses pewarisan budaya tidak berjalan secara optimal.

Namun demikian, Masamper masih memiliki peluang besar untuk berkembang apabila dilakukan inovasi dalam proses pelestariannya. Pemanfaatan teknologi digital, integrasi dalam pendidikan formal, penyelenggaraan festival budaya, pembinaan komunitas seni, serta dukungan pemerintah dan gereja dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kembali minat generasi muda. Dengan demikian, Masamper tidak hanya dapat dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga dikembangkan menjadi identitas budaya yang tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan masyarakat modern.

 

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai kurangnya minat generasi muda dalam kesenian Masamper, dapat disimpulkan bahwa Masamper merupakan salah satu warisan budaya tak benda masyarakat Kepulauan Sangihe yang memiliki nilai historis, sosial, budaya, pendidikan, dan religius yang sangat tinggi. Kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter, mempererat hubungan sosial, menyampaikan pesan moral, serta memperkuat identitas budaya masyarakat Sangihe.

Namun demikian, perkembangan globalisasi, kemajuan teknologi informasi, serta perubahan gaya hidup masyarakat telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap keberlangsungan kesenian Masamper. Generasi muda saat ini lebih banyak tertarik pada budaya populer yang berkembang melalui media digital dibandingkan mempelajari kesenian tradisional daerahnya sendiri. Kondisi tersebut mengakibatkan semakin menurunnya jumlah generasi muda yang terlibat dalam kelompok-kelompok Masamper sehingga proses regenerasi pelaku seni berjalan kurang optimal.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor utama yang menyebabkan rendahnya minat generasi muda terhadap kesenian Masamper, yaitu:

  1. Pengaruh globalisasi dan budaya populer, yang menyebabkan perubahan preferensi hiburan generasi muda menuju musik modern dan budaya luar.
  2. Perkembangan teknologi digital, yang lebih banyak dimanfaatkan sebagai media hiburan daripada media pelestarian budaya lokal.
  3. Kurangnya pendidikan budaya lokal di sekolah sehingga pengetahuan generasi muda mengenai Masamper masih terbatas.
  4. Minimnya regenerasi pelaku seni, karena semakin sedikit generasi muda yang bersedia mengikuti latihan maupun bergabung dalam kelompok Masamper.
  5. Perubahan gaya hidup masyarakat, yang menyebabkan waktu generasi muda lebih banyak dihabiskan untuk aktivitas akademik maupun penggunaan media sosial.
  6. Kurangnya dukungan lingkungan keluarga dan masyarakat, sehingga proses pewarisan budaya tidak berlangsung secara maksimal sejak usia dini.

Menurunnya minat generasi muda tersebut memberikan dampak yang cukup serius terhadap pelestarian budaya daerah. Dampak tersebut meliputi berkurangnya jumlah pelaku seni, melemahnya proses regenerasi budaya, menurunnya aktivitas seni tradisional dalam kehidupan masyarakat, berkurangnya nilai-nilai budaya yang diwariskan kepada generasi berikutnya, serta berpotensi menghilangkan identitas budaya masyarakat Kepulauan Sangihe apabila tidak dilakukan upaya pelestarian secara berkelanjutan.

Meskipun demikian, penelitian ini juga menunjukkan bahwa kesenian Masamper masih memiliki peluang besar untuk terus berkembang apabila dilakukan berbagai inovasi dalam pelestariannya. Pengembangan pendidikan budaya lokal, pemanfaatan media digital, penyelenggaraan festival budaya, pembinaan kelompok seni, pelatihan bagi generasi muda, serta kolaborasi antara seni tradisional dan musik modern dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan minat generasi muda terhadap kesenian Masamper.

Dengan demikian, pelestarian Masamper tidak hanya menjadi tanggung jawab para seniman atau pemerintah daerah semata, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk keluarga, sekolah, perguruan tinggi, gereja, komunitas budaya, dan generasi muda sendiri. Melalui kerja sama yang berkesinambungan, Masamper diharapkan tetap hidup, berkembang, dan menjadi identitas budaya yang diwariskan kepada generasi mendatang.

 

 B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, penulis memberikan beberapa saran sebagai berikut.

1. Bagi Pemerintah Daerah
Pemerintah daerah diharapkan dapat meningkatkan perhatian terhadap pelestarian kesenian Masamper melalui penyusunan kebijakan yang mendukung pengembangan seni budaya lokal. Dukungan tersebut dapat berupa penyediaan anggaran pembinaan kelompok seni, penyelenggaraan festival budaya secara rutin, pemberian penghargaan kepada pelaku seni, serta pembangunan sarana dan prasarana latihan yang memadai. Pemerintah juga diharapkan dapat memanfaatkan teknologi digital sebagai media promosi budaya sehingga Masamper lebih dikenal oleh masyarakat luas.

2. Bagi Lembaga Pendidikan
Sekolah dan perguruan tinggi diharapkan dapat memasukkan materi mengenai kesenian Masamper dalam pembelajaran seni budaya maupun kegiatan ekstrakurikuler. Pembelajaran tersebut tidak hanya berupa teori, tetapi juga praktik secara langsung sehingga peserta didik memiliki pengalaman nyata dalam mempelajari dan mencintai budaya daerahnya sendiri.

3. Bagi Gereja dan Organisasi Kemasyarakatan
Gereja memiliki peran yang strategis dalam pelestarian budaya masyarakat Sangihe. Oleh karena itu, kegiatan kepemudaan, paduan suara, maupun berbagai kegiatan gerejawi dapat menjadi media untuk memperkenalkan kembali kesenian Masamper kepada generasi muda. Organisasi kemasyarakatan juga diharapkan aktif menyelenggarakan kegiatan budaya yang melibatkan kaum muda sebagai bentuk pembinaan karakter dan pelestarian identitas budaya.

4. Bagi Komunitas Seni
Komunitas seni diharapkan dapat melakukan inovasi dalam penyajian Masamper tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional yang terkandung di dalamnya. Penggunaan media sosial, produksi konten digital, kolaborasi dengan musik modern, serta penyelenggaraan pelatihan secara berkala dapat menjadi langkah yang efektif untuk menarik minat generasi muda.

5. Bagi Generasi Muda
Generasi muda diharapkan memiliki kesadaran bahwa Masamper merupakan warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat Kepulauan Sangihe. Oleh karena itu, generasi muda perlu aktif mempelajari, mengikuti latihan, berpartisipasi dalam festival budaya, serta memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan Masamper kepada masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjadi penikmat budaya, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam pelestarian budaya bangsa.

6. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini masih terbatas pada kajian deskriptif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi minat generasi muda terhadap kesenian Masamper. Oleh karena itu, peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif yang melibatkan pelaku seni, tokoh adat, masyarakat, guru, serta generasi muda secara langsung sehingga diperoleh hasil penelitian yang lebih komprehensif dan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan pelestarian budaya di masa mendatang.

 

V. DAFTAR PUSTAKA

A. Buku
– Abdullah, Irwan. (2006). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
– Arikunto, Suharsimi. (2019). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
– Danandjaja, James. (2007). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain-lain. Jakarta: Grafiti.
– Geertz, Clifford. (1992). Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta: Kanisius.
– Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
– Koentjaraningrat. (2015). Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
– Moleong, Lexy J. (2021). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
– Murgiyanto, Sal. (2015). Tradisi dan Inovasi dalam Seni Pertunjukan Indonesia. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
– Nasution. (2016). Metode Research. Jakarta: Bumi Aksara.
– Sugiyono. (2023). Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
– Sedyawati, Edi. (2014). Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.
– Tilaar, H.A.R. (2018). Perubahan Sosial dan Pendidikan. Jakarta: Grasindo.

B. Jurnal Ilmiah
– Dewi, R., & Kadir, A. (2021). “Pelestarian Budaya Lokal Melalui Pendidikan Seni.” Jurnal Pendidikan Seni, 12(2), 45–56.
– Lomboan, J. (2020). “Peranan Seni Tradisional dalam Pembentukan Karakter Generasi Muda.” Jurnal Seni dan Budaya Sulawesi, 8(1), 21–33.
– Makalalag, F. (2022). “Eksistensi Seni Tradisional di Era Digital.” Jurnal Humaniora Indonesia, 14(1), 67–80.
– Mawuntu, M. (2021). “Strategi Pelestarian Budaya Daerah di Sulawesi Utara.” Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 26(2), 120–132.
– Ngangi, C. (2019). “Nilai-Nilai Budaya dalam Kesenian Masamper Masyarakat Sangihe.” Jurnal Antropologi Indonesia, 40(1), 55–70.
– Pangemanan, S. (2023). “Peran Generasi Muda dalam Pelestarian Budaya Lokal.” Jurnal Pendidikan Sosial, 15(2), 98–112.
– Rantung, D. (2022). “Pemanfaatan Media Digital dalam Promosi Seni Tradisional.” Jurnal Komunikasi dan Budaya, 10(3), 150–163.
– Sanger, H. (2020). “Masamper sebagai Identitas Budaya Kepulauan Sangihe.” Jurnal Seni Musik Nusantara, 5(2), 35–48.
– Ticoalu, J. (2021). “Pelestarian Musik Tradisional Melalui Pendidikan Formal.” Jurnal Pendidikan Musik Indonesia, 9(1), 72–85.

C. Peraturan Perundang-undangan
– Republik Indonesia. (2003). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
– Republik Indonesia. (2017). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
– Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
– Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Pedoman Pemajuan Kebudayaan Indonesia.

D. Sumber Pendukung Lain
– Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Sangihe. (2024). Kabupaten Kepulauan Sangihe Dalam Angka. Tahuna: BPS Kabupaten Kepulauan Sangihe.
– Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2023). *Pokok-Pokok Pemajuan Kebudayaan Nasional*. Jakarta.
– Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe. (2022). *Profil Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Sangihe*. Tahuna.
– UNESCO. (2003). *Convention for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage*. Paris: UNESCO.