BisnisManado.com, Belém – PT PLN (Persero) menegaskan langkah strategis Indonesia dalam memperkuat ekosistem pasar karbon global melalui penandatanganan dua kerja sama internasional di forum Seller Meets Buyer pada COP30, Belém, Brasil. Dalam agenda yang digelar 13 November lalu, PLN meresmikan Mutual Expression of Intent dengan Pemerintah Norwegia melalui Global Green Growth Institute (GGGI), serta Memorandum of Understanding (MoU) dengan perusahaan Jepang, Carbon Ex Inc.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, menilai kolaborasi ini menjadi dorongan penting bagi posisi Indonesia dalam kontribusi global penurunan emisi.

“Bagi Indonesia, momentum ini sangat penting karena membuktikan kemampuan Indonesia mendukung pencapaian target global penurunan emisi gas rumah kaca melalui penerapan perdagangan karbon di bawah Pasal 6 (Paris Agreement),” ujar Hanif.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq saat memberikan sambutan pada sesi Seller Meets Buyer di Paviliun Indonesia pada Conference of the Parties 30 (COP30) di Belém, Brasil (dok PLN)

Direktur Teknologi, Engineering dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi, menambahkan bahwa langkah ini menegaskan peran baru PLN dan Pemerintah sebagai katalis pasar karbon lintas negara untuk mempercepat transisi energi.
“Dunia tengah bergerak dengan langkah tegas menuju target Net Zero Emissions, dan Indonesia tidak terkecuali. PLN telah berkomitmen mencapai Net Zero Emissions pada 2060… kolaborasi bukanlah pilihan melainkan sebuah keharusan,” tutur Evy lewat pernyataan resminya (26/11/2026).

Evy menjelaskan, RUPTL 2025–2034 menargetkan penambahan kapasitas pembangkit 69,5 GW, dengan 76% atau 52,9 GW berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan storage. Aset hijau tersebut diproyeksikan menghasilkan lebih dari 1.000 TWh listrik bersih selama satu dekade.
“Indonesia memiliki peluang besar memimpin transisi energi bersih… dan kami ingin menjadi pemimpin bukan hanya di tingkat regional, tetapi juga pemimpin global,” lanjutnya.

Dalam forum tersebut, PLN juga memaparkan dua produk green attributes untuk mendukung dekarbonisasi korporasi: Unit Karbon serta layanan green energy as a service seperti Renewable Energy Certificate (REC) dan Dedicated Green Energy Sources.

“Produk utama kami dalam pengelolaan atribut hijau adalah Unit Karbon dan Renewable Energy Certificate… Instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas kepatuhan, tetapi juga membuka peluang percepatan dekarbonisasi,” jelas Evy.

Direktur Teknologi, Engineering dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi menjelaskan bahwa PLN bersama Pemerintah kini mengambil peran baru sebagai katalis dan akselerator pasar karbon untuk mempercepat transisi energi dan mendorong kolaborasi lintas sektor dalam mitigasi perubahan iklim. (dok PLN)

PLN turut membuka peluang forward offtake untuk tiga proyek bersertifikasi Gold Standard dengan potensi penurunan emisi sekitar 1,5 juta ton CO₂e, termasuk PLTS 50 MW berstorage di Ibu Kota Nusantara.

Menutup penjelasan, Evy menegaskan bahwa inisiatif ini menjadi bagian dari transformasi jangka panjang sektor kelistrikan nasional.

“Dengan dukungan investor dan mitra teknologi, kita dapat mempercepat realisasi proyek-proyek strategis yang memberikan dampak nyata bagi pengurangan emisi,” pungkasnya.

 

(rls/bim)