Analisis Filsafati Fenomena FOPO dalam Lensa Sartre: Konflik Eksistensial Manusia

Ilustrasi Fopo AI (Foto : Istimewa)

Penulis : Tiara Marshella Putri, Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Gambaran Fenomena/ Permasalahan

Apakah kamu sering merasa cemas akan pendapat orang lain? Bisa jadi kamu mengalami sebuah fonomena yang dikenal dengan istilah FOPO.

FOPO mengacu pada kecemasan seseorang yang muncul akibat dari rasa takut terhadap pandangan atau opini orang lain tentang dirinya.

Ketakutan ini berpotensi menghambat seseorang untuk berkembang. Bayangkan betapa sulitnya hidup Anda, jika Anda terlalu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu hanya karena Anda takut dengan apa yang orang lain pikirkan tentang Anda. Ini juga akan membatasi dunia Anda pada gagasan orang lain tentang apa yang seharusnya dilakukan. Hal ini tentunya sangat mengganggu jika muncul secara terus menerus.

FOPO atau Fear of Other People’s Opinions mulai merebak di kalangan Gen Z & Gen Alpha setelah fenomena FOMO (Fera Of Missing Out) atau keadaan seseorang yang terlalu cemas dan takut ketinggalan trend.

Ditambah dengan perkembangan dan penggunaan media sosial menjadi salah satu pemicu orang-orang mengalami FOPO. Melalui media sosial ini pendapat orang semakin terbuka, imagenya terbuka, meskipun ada beberapa orang yang memang selalu khawatir dengan pendapat orang sejak dulu

Media sosial bisa menjadi salah satu penyebab utama yang terbentuknya ketakutan seseorang, dimana dengan keberadaan media sosial image atau perspektif seseorang dibentuk oleh platrform ini. Misalnya, banyak diskusi dan obrolan terkait parameter bentuk tubuh yang ideal dikalangan anak muda, yang tentunya “Body Framing” ini bias menjurus kepada “Body Shamming” dan hal ini bias membuat seseorang kehilangan kepercayaan diri atau minder dengan kondisi tubuhnya.

Fenomena FOPO ini pun akan memicu konflik diri dimana keberdaan seseorang mulai dipertanyakan dalam batinnya.

Konsep Teoritis

Konflik eksistensial manusia adalah sebuah perdebatan batin yang mendalam tentang makna hidup, kebebasan, dan tanggung jawab. Salah satu filsuf terkemuka yang menggali konsep ini dengan mendalam adalah Jean-Paul Sartre, seorang filsuf Prancis yang hidup pada abad ke-20. Dalam pandangannya, konflik eksistensial bukan sekadar perdebatan teoretis, melainkan suatu realitas yang mendalam dan tak terelakkan dalam kehidupan manusia

Jean-Paul Sartre mengembangkan pemikiran eksistensialisme yang berfokus pada kebebasan individu dan tanggung jawab pribadi. Menurutnya, manusia terutama didefinisikan oleh tindakan dan pilihannya sendiri, dan kebebasanlah yang memberikan makna pada eksistensi manusia.

Teori konflik eksistensial menurut Jean-Paul Sartre menyoroti kompleksitas kehidupan manusia, di mana kebebasan dan tanggung jawab adalah elemen-elemen utama yang memunculkan konflik internal dan membentuk pencarian makna hidup.

Analisis Masalah

Dalam konteks fenomena FOPO, pandangan Sartre menunjukkan bahwa konflik eksistensial muncul ketika individu terjebak dalam upaya untuk memenuhi harapan dan pendapat orang lain, menyebabkan ketidakautentikan, kesendirian batin, dan ketidakcocokan dengan nilai pribadi. Analisis ini memberikan wawasan tentang bagaimana filsafat eksistensialis dapat diterapkan untuk memahami fenomena psikologis dan sosial seperti FOPO dalam kehidupan sehari-hari.

Analisis filsafati tentang makna konflik eksistensial manusia menurut Jean-Paul Sartre dalam konteks FOPO (Fear of Other People’s Opinion) mengarah pada pemahaman bagaimana pandangan Sartre tentang kebebasan, kesendirian, dan tanggung jawab dapat memberikan wawasan terhadap dampak FOPO dalam kehidupan modern. Berikut adalah beberapa aspek analisis tersebut:

  1. Konflik Antara Kebebasan dan Tanggung Jawab: Sartre meyakini meyakini kebebasan manusia sebagai beban. Meskipun memberi kemampuan memilih dan menciptakan makna hidup, kebebasan juga mengharuskan manusia bertanggung jawab penuh. Dalam kebebasan, manusia “condemned to be free” (dipaksa untuk bebas), menciptakan konflik antara keinginan bebas dan tanggung jawab. Dalam fenomena FOPO : seseorang akan mencerminkan ketergantungan pada opini orang lain. Individu yang mengalami FOPO mungkin cenderung membuat keputusan atau mengambil tindakan berdasarkan apa yang mereka kira akan disetujui oleh orang lain, bukan berdasarkan nilai atau keinginan pribadi mereka.
  • Ketidaknyamanan Hidup dan Kesendirian: Menurut Sartre, Kesadaran akan kebebasan dan tanggung jawab menciptakan ketidaknyamanan dan kecemasan. Kesendirian, sebagai hasil dari kebebasan, memaksa manusia menghadapi kenyataan sendirian dalam membuat pilihan hidup. Konflik eksistensial ini mendorong manusia untuk memahami dan merangkul kesendirian sebagai bagian integral dari kebebasan. Dalam fenomena FOPO : seseorang dapat menyebabkan kesendirian batin, di mana individu merasa terisolasi karena upaya mereka untuk selalu memenuhi ekspektasi orang lain.
  • Pencarian Makna Hidup: Dalam konflik eksistensialnya, Sartre menyoroti Pentingnya pencarian makna hidup bagi Sartre, di mana manusia tanpa esensi tetap harus menciptakan makna melalui pilihan dan tindakan pribadi. Meskipun dapat menimbulkan konflik batin, pencarian ini juga menjadi peluang menemukan makna hidup yang autentik. Dalam fenomena FOPO : dapat menyebabkan ketidakautentikan seseorang, di mana individu akan mempertahankan gambar yang sesuai dengan harapan orang lain. Kecemasan muncul ketika mereka tidak dapat hidup sesuai dengan nilai dan identitas pribadi mereka, akhirnya kehilanggan makna.

Bagaimana seorang bias keluar dari fenomena FOPO ini? Adapun Michael Gervais menuliskan dalam artikelnya, How to Stop Worrying About What Other People Think of You. Pertama tama kita harus menyadari dan menghargai pikiran kita sendiri, setelah menyadari pemikiran kita, arahkan diri ke arah pernyataan yang membangun kepercayaan diri misalnya:

Aku seorang mahasiswa yang baik;

Aku percaya kepada kemampuanku, karena aku telah belajar keras;

Aku punya banyak hal hebat untuk disampaikan;

Aku sepenuhnya siap untuk kepercayaan ini.

Pernyataan-pernyataan ini akan membantu kita fokus pada pengembangan keterampilan dan kemampuan diri, daripada memberikan perhatian terlalu besar pada pandangan orang lain. Bernapas dalam-dalam juga akan memberikan tanda pada otak bahwa kita tidak sedang menghadapi ancaman.

Namun, untuk sepenuhnya mengatasi FOPO, perlu adanya peningkatan kesadaran diri yang lebih dalam. Sebagian besar dari kita umumnya memiliki pemahaman umum tentang identitas diri, yang mungkin sudah memadai dalam banyak situasi. Meski begitu, jika kita memiliki tujuan untuk mencapai yang terbaik dan minim menghiraukan pendapat orang lain, diperlukan perkembangan pemahaman diri yang lebih kuat dan mendalam.

Megahmark

Penulis : Tiara Marshella Putri, Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Foto : Istimewa)

Kesimpulan

Dalam perspektif Sartre, Fear of Other People’s Opinions (FOPO) dapat diartikan sebagai pengorbanan kebebasan individu dalam mengambil keputusan dan menentukan makna hidupnya. FOPO menciptakan konflik eksistensial karena individu terjebak dalam ketergantungan pada pandangan orang lain, yang bertentangan dengan konsep kebebasan dan tanggung jawab pribadi menurut Sartre. Kesimpulannya, FOPO dapat menghambat pencarian makna autentik dan mengarah pada ketidakautentikan hidup. Untuk mengatasi FOPO, individu perlu memahami dan menerima kenyataan kesendirian sebagai bagian integral dari kebebasan dan berani hidup sesuai dengan nilai-nilai pribadi, tanpa tergantung pada persetujuan eksternal.

“Don’t be afraid to do something just because you’re scared of what people are going to say about you. People will judge you no matter what.” (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *