PenulisĀ  : Jonly V. Sadia
Mahasiswa IAKN Manado, Pendidikan Musik Gereja
Email: [email protected]

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran generasi muda dalam melestarikan musik tradisional Minahasa sebagai upaya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan budaya populer dan arus globalisasi yang mempengaruhi minat masyarakat terhadap musik tradisional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif fenomenologi untuk mendeskripsikan pengalaman, persepsi, dan bentuk keterlibatan generasi muda dalam kegiatan pelestarian musik tradisional Minahasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi muda berperan sebagai pelaku, pewaris, promotor,dan inovator melalui keikutsertaan dalam sanggar seni, pertunjukan budaya, pendidikan musik, serta pemanfaatan media digital untuk memperkenalkan musik tradisional kepada masyarakat luas. Meskipun menghadapi tantangan berupa menurunnya minat generasi muda, terbatasnnya pembinaan, dan dominasi budaya moder, berbagai upaya kolaboratif antara keluarga, komunitas seni, sekolah, dan pemerintah mampu mendukung keberlangsungan pelestarian musik tradisional musik tradisional Minahasa. Penelitian ini menegaskan bahwa keterlibatan aktif generasi muda menjadi faktor penting dalam menjaga eksistensi dan pewarisan musik tradisional Minahasa kepada generasi berikutnya.

I. Pendahuluan
Indonesia merupakan negara yang memiliki keragaman budaya yang sangat kaya, termasuk dalam bidang seni musik tradisional. Setiap daerah memiliki karakteristik musik yang mencerminkan sejarah, nilai-nilai kehidupan, serta identitas budaya masyarakatnya. Musik tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga, sebagai media komunikasi, pendidikan, ritual adat, serta sarana memperkuat solidaritas sosial. DI Provinsi Sulawesi Utara, khususnya masyarakat Minahasa, musik tradisioanl menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Berbagai jenis musik tradisional seperti musik bambu, musik bia, kolintang, dan berbagai lagu daerah Minahasa masih digunakan dalam kegiatan adat, keagamaan, maupun pertunjukan budaya. Oleh karena itu, musik tradisional Minahasa memiliki nilai budaya yang penting dan perlu di pertahankan keberadaannya agar tidak mengalami kepunahan ( Kapoyos Sinaga, dan Syakir, 2022 ).

Namun demikian, perkembangan zaman yang ditandai dengan globalisasi, kemajuan teknologi informasi, dan pesatnya perkembangan industri musik modern telah membawah perubahan terhadap pola kehidupan masyarakat, terutama generasi muda. Akses yang muda terhadap berbagai jenis musik populer dari dalam maupun luar negeri menyebabkan minat sebagian generasi muda terhadap musik tradisional mulai mengalami penurunan. Kondisi ini berdampak pada semakin berkuraangnya regenerasi pelaku seni tradisional sehingga keberlangsungan musik tradisional Minahasa menghadapi tantangan yang cukup besar. Apabila kondisi tersebut tidak diantisipasi melalui berbagai upaya pelestarian, maka dikhawatirkan musik tradisional Minahasa akan semakin kehilangan eksistensinya di tengah masyarakat ( Amalia, Shifa, dan Fadilah, 2025 ).

DI sisi lain, generasi muda merupakan kelompok masyarakat yang memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya, Sebagai pewaris budaya , generasi muda tidak hanya bertanggung jawab untuk mengenal dan mempelajari musik tradisional, tetapi juga mengembangkan serta memperkenalknnya kepada masyaarakat luas melalui berbagai media dan kegiatan budaya. Perkembangan teknologi digital sebenarnya dapat menjadi peluang dalam upaya pelestarian musik tradisional. Berbagai platform media sosial, seperti youtube, Instagram, TikTok, dan Facebook, dapat dimanfaatkan sebagai media promosi, dokumentasi, edukasi, serta publikasi pertunjukan musik tradisional sehingga mampu menjangkau masyarakat yang lebih luas. Khususnya kalangan muda ( Poluan, Sinaga, Dan Utomo, 2023 ).

Penelitian mengenai musik tradisional Minahasa menunjukkan bahwa proses pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada keberadaan seniman senior, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda. Kapoyos, Sinaga, dan Syakir ( 2022 ) menjelaskan bahwa keberhasilan pewarisan musik tradisional sangat dipengaruhi oleh proses pembelajaran yang berlangsung dalam keluarga, komunitas seni, maupun lingkungan pendidikan. Semakin besar kesempatan yang diberikan kepada generasi muda untuk terlibat secara langsung dalam aktifitas seni budaya, semakin tinggi pula kesadaran mereka dalam mempertahankan identitas budaya daerahnya.

Hasil penelitian lain juga menunjukkan bahwa musik tradisional tidak hanya dipandang sebagai bentuk kesenian, tetapi juga sebagai simbol identitas masyarakat minahasa. Pandaleke dan Maragani ( 2022 ) mengemukakan bahwa musik tradisional tetap memiliki makna budaya yang kuat bagi masyarakat Minahasa meskipun mengalami berbagai bentuk adaptasi sesuai perkembangan zaman. Adaptasi tersebut merupakan bentuk kreativitas masyarakat dalam mempertahankan eksistensi budaya tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional yang terkandung di dalamnya. Meskipun demikian, berbagai tantangan masih ditemukan dalam proses pelestarian musik tradisional Minahasa. Beberapa di antaranya adalah minimnya minat generasi muda untuk mempelajari alat musik tradisional, terbatasnya jumlah pelatih dan sanggar seni, kurangnya dukungan fasilitas, serta rendahnya intensitas pembelajaran seni budaya berbasis budaya lokal di lingkungan sekolah.

Fenomena tersebut menjadi alasan penting dilakukannya penelitian mengenai peran generasi muda dalam melestarikan musik tradisional Minahasa. Penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk mengetahui bentuk keterlibatan generasi muda dalam berbagai aktivitas pelestarian budaya, tetapi juga berusaha memahami pengalaman, motivasi, serta makna yang mereka rasakan ketika terlibat dalam kegiatan musik tradisional. Pemahaman terhadap pengalaman tersebut sangat penting sebagai dasar penyusunan strategi pelestarian budaya yang sesuai dengan kondisi sosial masyarakat saat ini.

Alat musik tradisional / musik bambu (Foto Kemenkeu.go.id)

II. Metode
Penelitian ini menggunakkan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif fenomenologi. Pendakatan fenomenologi memusatkan perhatian pada pengalaman subjektif individu dalam memahami suatu fenomena berdasarkan pandangan, makna, dan penafsiran terhadap pengalaman yang mereka alami. Melalui pendekatan ini, peneliti berupaya menggali pengalaman hidup generasi muda dalam upaya melestarikan musik tradisional Minahasa, sehingga diperoleh pemahaman yang mendalam mengenai makna, motivasi, serta penagalaman mereka dalam mempertahankan warisan budaya tersebut.

Fenomenologi dalam penelitian ini berfokus pada esensi pengalaman generasi muda dalam melestarikan musik tradisional Minahasa. Penelitian bertujuan menghasilkan deskripsi mengenai: bentuk peran generasi muda dalam menjaga, mempelajari, dan mengembangkan musik tradisional Minahasa. Pengalaman, motivasi, serta makna yang mereka rasakan dalam proses pelestarian. Tantangan yang dihadapi, baik yang berasal dari perkembangan teknologi, perubahan budaya, maupun rendahnya minat masyarakat, serta strategi yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi musik tradisional Minahasa di Tengah arus modernisasi. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan menganalisis secara deskriptif fenomenologis peran generasi muda dalam melestarikan musik tradisional Minahasa berdasarkan pengalaman nyata para pelaku yang terlibat dalam proses pelestarian budaya tersebut.

Foto : Youtube Kolintang Nyong Noni Sulut

III. Hasil dan Pembahasan
1. Peran Generasi Muda Dalam Melestarikan Musik Tradisional Minahasa
Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi muda memiliki peran penting sebagai pelaku, pewaris, sekaligus penggerak pelestarian musik tradisional Minahasa. Peran tersebut diwujudkan melalui keterlibatan dalam kelompok kolintang, musik bambu, musik bia, sanggar seni, serta kegiatan budaya di sekolah maupun gereja. Keterlibatan ini membentuk rasa memiliki terhadap budaya lokal dan memperkuat identitas budaya masyarakat Minahasa ( Pandaleke & Maragani, 2022 ).

2. Bentuk Partisipasi Generasi Muda Dalam Pelestarian Musik Tradisional Minahasa
Bentuk partisipasi generasi muda meliputi mengikut latihan rutin, tampil pada festival budaya, menjadi anggota sanggar seni, mengajarkan musik tradisional kepada anak-anak, serta memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan musik tradisional kepada masyarakat luas. Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap musik tradisional di era modern ( Hartono, 2025 ).

Memainkan Alat Musik Tradisional (musik bambu) (Foto : Kemenkeu.go.id)

3. Tantangan Dalam Melestarikan Musik Tradisional Minahasa
Penelitian menemukan bahwa tantangan utama dalam pelestarian musik tradisional Minahasa adalah rendahnya minat sebagian generasi muda akibat pengaruh budaya populer, terbatasnya jumlah pelatih, kurangnya sarana pembelajaran, serta minimnya kesempatan untuk tampil. Selain itu, arus globalisasi menyebabkan musik modern lebih diminati sehingga proses regenerasi pelaku musik tradisional berjalan lebih lambat ( Kapoyos, Suharto, & Syakir, 2022 ). Penelitian lain juga menjelaskan bahwa globalisasi memberikan dampak terhadap menurunnya ketertarikan generasi muda terhadap kesenian tradisional apabila tidak diimbangi dengan pendidikan budaya yang berkelanjutan ( Amelia, Shifa, & Fadilah, 2025 ).

4. Upaya Pelestarian Musik Tradisional Minahasa
Upaya pelestarian dilakukan kolaborasi antara keluaraga, sekolah, komunitas seni, gereja, dan pemerintah. Bentuk upaya tersebut meliputi penyelenggaraan festival budaya, pembelajaran musik tradisional di sekolah, pelatihan kolintang, dokumentasi karya melalui media digital, serta promosi budaya di tingkat nasional maupun internasional. Pengakuan kolintang sebagai warisan budaya dunia semakin memperkuat pentingnya pelestarian melalui pendidikan, inovasi, dan diplomasi budaya ( Hartono, 2025; Niode, Posumah, & Rengkung, 2023 ).

Memainkan musik Kolintang. (Foto : Istimewa)

IV. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dengan pendekatan deskriptif fenomenologi, ditemukan bahwa generasi muda memiliki peran yang penting dalam melestarikan musik tradisional Minahasa melalui keterlibatan dalam sanggar seni, kegiatan budaya, pendidikan, pertunjukan, serta pemanfaatan media digital sebagai sarana promosi dan edukasi budaya. Pengalaman para partisipan menunjukkan bahwa pelestarian musik tradisional tidak hanya dipandang sebagai upaya menjaga warisan budaya, tetapi juga sebagai bentuk pelestarian identitas dan kebanggan masyarakat Minahasa.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, seperti pengaruh globalisasi, dominasi budaya populer, menurunnya minat sebagian generasi muda, serta terbatasnya pembinaan dan fasilitas, para partisipan tetap menunjukkan komitmen untuk mempertahankan eksistensi musik tradisional melalui kolaborasi dengan komunitas seni, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa keterlibatan aktif generasi muda menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan musik tradisional Minahasa sehinggah tetap lestari, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

 

V. Kepustakaan
Amelia, N., Shifa, R., & Fadilah, A. (2025). Pelestarian Musik Tradisional di Era Globalisasi. Jurnal Pendidikan Seni dan Budaya, vol. 9, No. 1, 45-48.
Hartono, D. (2025). Pemanfaatan Media Digital Sebagai Strategi Pelestarian Musik Tradisional Indonesia. Jurnal Seni Musik Indonesia, Vol. 11, No. 1, 33-47
Kapoyos, R., Sinaga, F,. S., & Syakir. (2022). Pelestarian Musik Tradisional Minahasa Melalui Pendidikan dan Komunitas Seni. Jurnal Seni dan Budaya, vol. 14, No. 2, 88-101.
Niode, A, Posumah, J, & Rengkung, F. (2023). Kolintang Sebagai Warisan Budaya Dunia dan Strategi Pelestariannya. Jurnal Kebudayaan Indonesia. Vol. 8, No. 2, 70-84.
Pandaleke, M., & Maragani, Y. (2022). Musik Tradisional Minahasa Sebagai Identitas Budaya Masyarakat. Jurnal Kajian Seni Nusantara. Vol. 6, No. 2, 120-132.
Poluan, R., Sinaga, F, S., & Utomo, A. (2023). Media Sosial Sebagai Sarana Promosi Budaya dan Musik Tradisional di Indonesia. Jurnal Komunikasi Budaya, Vol. 5, No. 1, 25-39.