BisnisManado.com, Jakarta — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) memasuki babak baru transformasi bisnis di bawah supervisi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Tidak hanya membukukan dividen terbesar sepanjang sejarah perusahaan senilai Rp52,1 triliun, bank dengan fokus pembiayaan UMKM tersebut juga menunjukkan kinerja yang tetap ekspansif di tengah upaya memperkuat efisiensi dan memperluas pembiayaan sektor produktif.

Besarnya dividen yang dibagikan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 menjadi sinyal bahwa BRI mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, profitabilitas, dan penciptaan nilai bagi negara sebagai pemegang saham pengendali. Dividen sebesar Rp346 per saham itu berasal dari laba bersih konsolidasian tahun buku 2025 yang mencapai Rp57,13 triliun.

Capaian tersebut mempertegas posisi BRI sebagai salah satu kontributor terbesar penerimaan negara dari sektor BUMN. Di saat yang sama, perseroan tetap memiliki ruang yang memadai untuk melanjutkan ekspansi kredit, mempercepat transformasi digital, hingga memperkuat bisnis berbasis ekosistem.

Kinerja tersebut berlanjut pada tiga bulan pertama 2026. Hingga akhir Maret, BRI mencatat laba bersih konsolidasian Rp15,5 triliun atau tumbuh 13,7% secara tahunan. Penyaluran kredit meningkat menjadi Rp1.562 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh menjadi Rp1.555 triliun. Struktur pendanaan juga semakin sehat dengan rasio dana murah (CASA) mencapai 68,07%, yang berhasil menurunkan biaya dana (cost of fund/CoF) menjadi 2,3%.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan kehadiran Danantara menjadi momentum penting bagi perseroan untuk mempercepat transformasi sekaligus memperbesar kontribusi terhadap agenda pembangunan nasional.

“BRI akan terus melanjutkan transformasi dengan bertumpu pada fundamental yang kuat, penguatan bisnis inti, serta pengembangan sumber pertumbuhan baru. Keberadaan Danantara menjadi momentum penting bagi BRI untuk memperkuat peran dalam mendukung pencapaian program strategis nasional serta berbagai program prioritas pemerintah. Kami ingin memastikan pertumbuhan Perseroan tidak hanya tercermin pada kinerja keuangan, tetapi juga pada kontribusi nyata BRI dalam pemberdayaan UMKM, penguatan ekonomi kerakyatan, dan penciptaan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat,” ujar Hery.

Berdasarkan keterangan resmi yang diterima Bisnis, Senin (6/7/2026), BRI tengah mengakselerasi transformasi melalui program BRIVolution Reignite yang difokuskan pada penguatan bisnis inti, peningkatan efisiensi, optimalisasi struktur pendanaan, serta percepatan digitalisasi layanan. Agenda transformasi tersebut juga diiringi dengan rebranding korporasi bertajuk “Satu Bank untuk Semua” sebagai upaya memperluas basis nasabah tanpa meninggalkan karakter utama BRI sebagai bank yang berpihak kepada UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Transformasi tersebut berjalan beriringan dengan penguatan fungsi intermediasi. Hingga Mei 2026, realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp84,36 triliun atau hampir 47% dari alokasi tahun ini sebesar Rp180 triliun. Sebagian besar pembiayaan tersebut mengalir ke sektor produktif, dengan sektor pertanian menjadi penerima terbesar. Di sisi lain, penyaluran Kredit Pemilikan Properti (KPP) juga telah mencapai Rp9,5 triliun kepada lebih dari 68.000 debitur, sehingga mendorong BRI meningkatkan target penyaluran KPP sepanjang tahun.
Tidak hanya mengandalkan bisnis perbankan konvensional, BRI juga terus memperkuat ekosistem pemberdayaan pelaku usaha kecil. Perseroan kini membina lebih dari 5.200 Desa BRILiaN, melayani 15,6 juta pengguna LinkUMKM, serta mengembangkan lebih dari 43.000 klaster usaha melalui program Klasterku Hidupku. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperluas inklusi keuangan sekaligus meningkatkan kapasitas pelaku UMKM agar mampu naik kelas.

Kontribusi perusahaan anak pun semakin signifikan. Hingga Triwulan I/2026, entitas anak BRI menyumbang laba Rp3,89 triliun atau sekitar 25,1% terhadap laba bersih konsolidasian. Kondisi tersebut menunjukkan strategi diversifikasi bisnis mulai memberikan hasil dan memperkuat fondasi pertumbuhan grup secara keseluruhan.

Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria menilai kinerja positif bank-bank Himbara menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kinerja bank Himbara yang positif jadi pilar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui pembiayaan yang lebih besar kepada sektor-sektor produktif dan kerakyatan, termasuk industri manufaktur, hilirisasi sumber daya alam, infrastruktur, UMKM, serta berbagai sektor yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan daya saing nasional,” katanya.

Di bawah pengelolaan Danantara, BRI tidak hanya dituntut menjaga profitabilitas, tetapi juga memperbesar dampak ekonomi. Kombinasi antara kinerja keuangan yang solid, transformasi bisnis, dan ekspansi pembiayaan ke sektor produktif menjadi fondasi bagi perseroan untuk mempertahankan perannya sebagai motor penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus pencipta nilai bagi negara.

 

(rls/bim)