Bagi Hendri Ronald Tahendung, menjadi seorang mantri bukan sekadar menawarkan layanan perbankan, mendampingi usaha kecil, atau menagih kewajiban nasabah. Ada perjalanan panjang, tantangan, bahkan ancaman nyawa di balik pekerjaannya. Namun, satu prinsip selalu ia pegang: bekerja dengan pikiran jernih, melayani dengan hati, dan menjadi berkat bagi orang lain.
BisnisManado.com – Jalan terjal, bukit yang harus didaki, perkebunan kelapa dan sayur-sayuran, hingga sungai yang mesti diseberangi menjadi bagian dari keseharian Hendri Ronald Tahendung (43). Sebagai seorang mantri BRI Kantor Cabang Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, ia memahami bahwa melayani masyarakat tidak selalu bisa ditempuh melalui jalan yang mudah.
Di wilayah penugasannya, Kecamatan Tabukan Utara (Tabut), terdapat 10 desa. Lima desa berada di kawasan pegunungan dan lima lainnya berada di pesisir pantai. Tidak semua desa dapat dijangkau kendaraan. Ada kalanya Ronald harus berjalan kaki, melewati bukit, perkebunan, bahkan sungai demi menjangkau nasabah dan memastikan pelayanan tetap berjalan.
Namun, medan yang berat bukanlah satu-satunya tantangan. Dalam delapan tahun pengabdiannya di BRI, pria lulusan sarjana pendidikan dari salah satu universitas di Sulawesi Utara ini telah melewati pengalaman yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Dua kali ia berhadapan dengan situasi yang mengancam nyawanya. Pernah terombang-ambing di tengah laut akibat perahu terbalik. Pernah pula harus berlari menyelamatkan diri dari seorang nasabah yang mengejarnya dengan parang.
Akan tetapi, pengalaman itu tidak membuatnya berhenti melayani.

Berawal dari asisten mantri, tumbuh dengan semangat pengabdian
Perjalanan Ronald di BRI dimulai sekitar delapan tahun lalu. Berbekal pendidikan sarjana, ia mengawali karier sebagai asisten mantri selama dua tahun. Setelah itu, ia dipercaya menjadi mantri dan telah menjalani tugas tersebut selama empat tahun.
Dalam perjalanan kariernya, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik. Baginya, pekerjaan bukan sekadar tanggung jawab yang harus diselesaikan, melainkan kesempatan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
Prinsip itulah yang membawanya menjalani tugas di berbagai kondisi, termasuk menjangkau masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pelayanan.
Salah satu pengalaman paling menegangkan terjadi ketika ia melakukan survei dan pendampingan terhadap calon nasabah pelaku UMKM yang mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Terombang-ambing di laut, nyaris kehilangan nyawa
Peristiwa itu terjadi ketika Ronald bersama calon nasabah dan seorang pemilik perahu hendak meninjau lokasi usaha di Pulau Batuwingkung.
Pulau kecil yang dihuni sekitar 50 kepala keluarga tersebut merupakan kawasan masyarakat nelayan. Salah satu usaha yang menjadi objek peninjauan adalah pengolahan ikan asin milik calon nasabah. Hasil tangkapan nelayan dikumpulkan, diolah menjadi ikan asin, kemudian dipasarkan ke pasar tradisional.
Saat itu sekitar pukul 11.00 WITA.
Mereka bertolak menuju pulau dengan waktu perjalanan sekitar 25 menit. Namun, kondisi cuaca kurang bersahabat. Gerimis turun, angin bertiup cukup kencang, dan gelombang laut mulai terasa.
Belum sampai tujuan, sekitar 10 menit perjalanan, mesin perahu tiba-tiba mengalami kerusakan dan tidak lagi berfungsi.
Situasi semakin mencekam. Diterpa angin dan gelombang, perahu akhirnya terbalik. Perahu jenis sema-sema, sebutan masyarakat setempat untuk perahu dengan penyeimbang di sisi kiri dan kanan itu, sulit dikembalikan ke posisi semula.
Ponsel yang dibawa Ronald basah. Mereka pun nyaris tenggelam di tengah gelombang laut.
Di tengah situasi yang tidak menentu, pertolongan datang dari sebuah perahu nelayan yang kebetulan melintas. Mereka akhirnya berhasil diselamatkan dan dibawa menuju tempat tujuan.
Bagi sebagian orang, pengalaman seperti itu mungkin menjadi alasan untuk mengurungkan niat melanjutkan pekerjaan. Namun, Ronald memiliki tekad berbeda.
Dalam kondisi tubuh basah kuyup, ia tetap berusaha menyelesaikan tugasnya. Baginya, tanggung jawab kepada masyarakat harus dituntaskan selama masih memungkinkan.

Dikejar parang saat menanyakan tunggakan
Pengalaman lain yang tak kalah menegangkan terjadi di Desa Bowone.
Saat itu Ronald sedang menjalankan tugas menanyakan kewajiban seorang nasabah yang telah menunggak selama empat bulan. Ia datang dengan maksud baik, bertamu, menyapa, dan menanyakan kendala yang menyebabkan pembayaran belum dilakukan.
Namun, situasi berubah secara tiba-tiba.
Nasabah tersebut bergegas menuju dapur, mengambil sebilah parang, lalu mengejar Ronald dengan kemarahan.
“Saya kalau tidak lari, saya sudah tidak ada sekarang, Pak!” ungkapnya saat menceritakan kembali pengalaman tersebut melalui sambungan telepon.
Beruntung, Ronald berhasil menyelamatkan diri. Persoalan kemudian dilaporkan kepada pemerintah desa dan diselesaikan melalui proses mediasi.
Dari peristiwa itu, Ronald akhirnya mengetahui persoalan yang sebenarnya. Nasabah tersebut berusia lebih dari 60 tahun. Istrinya sedang sakit dan pada saat bersamaan ia juga memiliki kewajiban pembayaran di bank lain.
Di balik kemarahan yang sempat mengancam keselamatannya, ternyata ada persoalan keluarga dan ekonomi yang belum terselesaikan.
Ronald memilih memahami keadaan tersebut. Ia tetap berupaya memberikan solusi dan melayani nasabah dengan baik.
Baginya, memahami persoalan nasabah merupakan bagian penting dari pelayanan. Sebab, tidak semua keterlambatan pembayaran terjadi karena seseorang tidak mau memenuhi kewajibannya. Terkadang ada persoalan kehidupan yang jauh lebih besar sedang mereka hadapi.
Datang untuk menagih, justru pulang dengan mengulurkan bantuan
Ada satu pengalaman lain yang memperlihatkan sisi kemanusiaan Ronald.
Ketika mendatangi seorang nasabah perempuan untuk menanyakan kewajiban pembayaran, ia justru menemukan keadaan yang membuat hatinya tersentuh.
Suami nasabah tersebut telah pergi ke Papua untuk bekerja. Sang ibu harus mengurus anaknya yang masih kecil dan sedang sakit demam. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, keluarga itu sedang mengalami kesulitan.
“Saya mau bayar bagaimana? Anak saya sedang sakit demam, untuk makan pun tidak ada, beras habis,” ujar Ronald menirukan perkataan nasabah tersebut.
Mendengar cerita itu, Ronald terdiam. Ia melihat persoalan yang jauh lebih mendesak daripada tunggakan pembayaran.
Tanpa banyak pertimbangan, ia mengambil uang dari kantong pribadinya dan memberikannya kepada ibu tersebut untuk membantu memenuhi kebutuhan beberapa hari ke depan.
Hari itu, ia datang dengan tugas menagih kewajiban nasabah. Namun, ia pulang dengan memberikan bantuan.
Sebuah pengalaman sederhana, tetapi menyimpan makna besar tentang kemanusiaan.
Melayani dengan hati, menyelesaikan persoalan dengan pikiran jernih
Bagi Ronald, berbagai pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga dalam menjalankan pekerjaan. Ia semakin memahami bahwa di balik setiap nasabah terdapat cerita, pergumulan, dan persoalan kehidupan yang berbeda-beda.
Menurutnya, setiap persoalan perlu dibicarakan dengan baik karena selalu ada kemungkinan untuk menemukan solusi.
Sikap sopan, ramah, dan menghargai orang lain menjadi hal penting dalam memberikan pelayanan. Ia berusaha tidak menjadikan jabatan atau tanggung jawab pekerjaan sebagai alasan untuk bersikap keras kepada masyarakat.
“Semua yang terbaik bisa ditempuh dengan pikiran yang jernih. Saya berprinsip, layanilah orang seperti yang Anda inginkan diperbuat kepadamu,” ungkapnya.
Prinsip tersebut menjadi pegangan Ronald dalam menjalankan tugas sebagai mantri. Ia menyadari bahwa pelayanan perbankan bukan hanya tentang angka, target, dan kewajiban, tetapi juga tentang membangun kepercayaan.
Pengalaman menghadapi nasabah dengan berbagai karakter mengajarkannya untuk lebih sabar, bijaksana, dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
Sebab, terkadang seseorang yang datang dengan kemarahan sebenarnya sedang menyimpan kesulitan. Ada pula yang terlihat tidak mampu memenuhi kewajibannya, tetapi sesungguhnya sedang berjuang mempertahankan kehidupan keluarganya.
Prestasi lahir dari ketekunan dan tanggung jawab
Perjalanan Ronald bukan hanya diwarnai tantangan dan pengalaman yang menguji keberanian. Ketekunan serta komitmennya dalam bekerja juga membuahkan sejumlah pencapaian.
Beberapa penghargaan dan kepercayaan yang pernah diraihnya antara lain:
– Predikat Sangat Baik tahun 2023.
– Predikat Sangat Baik tahun 2024.
– Mantri Terbaik tahun 2023.
– Mantri Terbaik periode Januari–Juni 2026.
– Terpilih mengikuti Jambore Mantri 2026.
Deretan pencapaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya. Namun, jika melihat kembali pengalaman selama bertugas, ada sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar penghargaan, yakni kesempatan untuk hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebagai seorang suami dan ayah dari dua orang anak, Ronald tentu memiliki keluarga yang menantikan kepulangannya setiap hari. Setiap kali berangkat menjalankan tugas, ada risiko dan ketidakpastian yang harus dihadapi. Namun, ia tetap berusaha menjalankan tanggung jawab dengan penuh kesungguhan.

Lebih dari sekadar pekerjaan, ada nilai kehidupan yang diperjuangkan
Kisah Hendri Ronald Tahendung memberikan gambaran bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan luar biasa.
Terkadang, pengabdian justru terlihat dari langkah kaki yang menembus bukit demi menjangkau nasabah. Dari keberanian menyeberangi laut untuk memastikan usaha kecil mendapatkan pendampingan. Dari kesabaran menghadapi nasabah yang sedang bermasalah, hingga kepedulian sederhana dengan memberikan bantuan kepada seorang ibu yang kesulitan memenuhi kebutuhan anaknya.
Di tengah tantangan pekerjaan, Ronald menunjukkan bahwa menjadi seorang mantri bukan hanya tentang bagaimana mencapai target, tetapi juga bagaimana menghadirkan manfaat.
Ia mungkin tidak selalu bisa mengubah keadaan setiap nasabah. Namun, melalui sikap ramah, kepedulian, dan kesediaan mendengarkan, ia berusaha memberikan harapan dan jalan keluar bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
Pada akhirnya, kisah mantri BRI dari Kepulauan Sangihe ini mengajarkan satu hal sederhana: pekerjaan yang dilakukan dengan hati akan selalu memiliki makna lebih dari sekadar hasil yang terlihat.
Sebab, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi pencapaian yang diraih, melainkan juga seberapa banyak orang yang merasakan manfaat dari kehadiran kita.
Dan bagi Ronald, sejauh mana pun langkah harus ditempuh, setinggi apa pun bukit harus didaki, bahkan seberat apa pun tantangan yang menghadang, ada satu prinsip yang tetap ia bawa: bekerja dengan baik, melayani dengan tulus, dan menjadi berkat bagi sesama.
(bim)








Tinggalkan Balasan