BisnisManado.com, Tomohon – Belajar langsung dari negara asal bahasa Mandarin menjadi pengalaman yang tidak bisa didapat hanya dari ruang kelas. Itulah yang baru saja dirasakan para siswa Sekolah Lokon St. Nikolaus (LOSNITO) Tomohon setelah mengikuti Chinese Bridge Chinese Language and Culture Summer Camp 2026 di China, pada 30 Juni hingga 13 Juli 2026.

Selama hampir dua pekan, mereka bukan hanya belajar bahasa Mandarin, tetapi juga menyelami budaya, sejarah, hingga kehidupan masyarakat Tiongkok secara langsung. Pengalaman ini menjadi bagian dari program internasional yang sudah rutin diikuti LOSNITO dan menjadikannya satu-satunya sekolah di Sulawesi Utara yang memiliki program Summer Camp resmi di China.

Program tersebut merupakan hasil kerja sama Yayasan Pendidikan Lokon, Confucius Institute Universitas Hasanuddin Makassar, dan Universitas Nanchang di Provinsi Jiangxi, China. Melalui Lokon Chinese Teaching Site, Sekolah Lokon St. Nikolaus juga menjadi pusat pengajaran bahasa Mandarin sekaligus penyelenggara resmi ujian internasional YCT hingga HSK/HSKK bagi para pelajar.

(Foto : istimewa)

Mengusung tema “Persahabatan Sehat, Dunia Bertumbuh Hijau, Masa Depan Bersama”, Summer Camp tahun ini mempertemukan 19 peserta dari Indonesia yang terdiri atas siswa SMP dan SMA Lokon St. Nikolaus serta satu sekolah dari Makassar. Kegiatan diselenggarakan oleh Center for Language Education and Cooperation, Kementerian Pendidikan China, dengan pendampingan guru Vindi Pangabean dan Wang Ming Ming, pengajar Mandarin asal Universitas Nanchang.

Selama berada di kampus Universitas Nanchang, para peserta mengikuti kelas bahasa Mandarin yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Mereka belajar komunikasi sehari-hari, berdialog langsung, hingga berlatih membaca, menulis, mendengar, dan berbicara dalam berbagai situasi. Cara belajar seperti ini membuat kemampuan bahasa mereka berkembang jauh lebih cepat karena dipraktikkan langsung di lingkungan penutur asli.

Namun, pengalaman yang paling berkesan justru datang dari kegiatan budaya. Para siswa diajak mencoba berbagai kerajinan tradisional khas Tiongkok, mulai dari membuat Song Brocade, seni potong kertas, lukisan herbal aromaterapi, seni teh, hingga membuat aksesori dari kerang. Semua aktivitas dilakukan langsung bersama para instruktur sehingga peserta tidak hanya melihat, tetapi benar-benar ikut berkarya.

(Foto : istimewa)

Petualangan budaya juga berlanjut di berbagai destinasi bersejarah di Provinsi Jiangxi. Mereka mengunjungi Kawasan Wisata Xianghu, Akademi Yuzhang, Balai Peringatan Badashanren, hingga Paviliun Tengwang yang menjadi ikon budaya setempat. Perjalanan ini memberikan gambaran bagaimana sejarah, alam, dan kehidupan modern di China berpadu dalam satu pengalaman belajar.

Setelah menyelesaikan kegiatan di Nanchang, rombongan melanjutkan perjalanan ke Xi’an selama tiga hari. Kota yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban kuno Tiongkok itu menyuguhkan pengalaman berbeda melalui kunjungan ke Museum Tentara Terracotta, Istana Huaqing, Museum Xi’an, hingga Pagoda Angsa Kecil. Di sana para peserta belajar langsung tentang sejarah ribuan tahun yang membentuk peradaban Tiongkok hingga saat ini.

Tak hanya menambah ilmu, Summer Camp ini juga menjadi ajang mempererat persahabatan lintas negara. Para siswa Indonesia berinteraksi dengan peserta lain, termasuk mahasiswa dari Spanyol dan Bali, sehingga tercipta pertukaran budaya yang semakin memperluas wawasan mereka.

(Foto : istimewa)

Kepala Lokon Chinese Teaching Site yang juga Direktur Pengembangan dan Kerja Sama Yayasan Pendidikan Lokon, Jimmy Pontoan, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari komitmen sekolah dalam menghadirkan pengalaman belajar bertaraf internasional bagi para siswa.

“Melalui pengalaman belajar langsung di China, para siswa dapat memahami bahasa dan budaya secara lebih mendalam sekaligus membangun persahabatan dengan generasi muda dari berbagai negara,” ujar Jimmy.

Ia berharap kerja sama antara Sekolah Lokon St. Nikolaus, Confucius Institute Universitas Hasanuddin, dan Universitas Nanchang terus berlanjut sehingga semakin banyak pelajar Indonesia, khususnya dari Sulawesi Utara, memperoleh kesempatan mengikuti program internasional seperti ini.

(Foto : istimewa)

Bagi Sekolah Lokon St. Nikolaus, Summer Camp bukan sekadar perjalanan ke luar negeri, melainkan investasi pendidikan jangka panjang. Melalui pengalaman belajar lintas budaya, para siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mampu berkomunikasi secara global, menghargai keberagaman, serta menjadi jembatan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok di masa depan.

 

(thw)