Penulis : Varelino Masihor
Mahasiswa IAKN MANADO (PMG)
email: [email protected]

Abstrak
Musik Kolintang merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara, yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan pendidikan. Di tengah perkembangan musik modern dan pengaruh globalisasi, minat dan bakat dari setiap generasi muda terhadap musik tradisional cenderung mengalami penurunan. Oleh karena itu, pelestarian musik Kolintang di lingkungan Sekolah Menengah Atas (SMA Negeri 3 Manado) menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga keberlanjutan budaya daerah. Artikel ini bertujuan mengkaji peran sekolah, guru, pelatih, peserta didik, dan masyarakat dalam upaya pelestarian musik Kolintang di kalangan generasi muda.

Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan mengkaji berbagai literatur mengenai pendidikan seni, budaya lokal, dan pelestarian warisan budaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran musik Kolintang di SMA Negeri 3 Manado tidak hanya meningkatkan keterampilan bermusik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter, memperkuat identitas budaya, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya bangsa dan semakin memperkuat pentingnya upaya pelestarian melalui pendidikan.

I. Pendahuluan
Musik tradisional merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, pendidikan, dan identitas bangsa. Di Indonesia, setiap daerah memiliki kesenian tradisional yang khas dan tersendiri, salah satunya adalah musik kolintang. Musik kolintang merupakan alat musik tradisional yang berasal dari wilayah Indonesia di bagian timur, khususnya di daerah Minahasa Provinsi Sulawesi Utara.

Musik kolintang dimainkan secara berkelompok dan menghasilkan harmoni bunyi yang khas serta memiliki nilai budaya yang tinggi. Musik kolintang adalah alat musik tradisional yang terdiri dari susunan gong kecil (kayu, spons, karet, benang nilon/wol, dan kain) yang ditata secara horizontal dan dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat pemukul khusus yang terbuat dari kayu yang sudah di lapisi karet sama kain yang di ikat oleh benang nilon/wol. Musik Kolintang juga sering digunakan dalam acara adat, pertunjukan seni, maupun kegiatan budaya masyarakat.

Seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, minat generasi muda terhadap musik tradisional mulai menurun. Banyak siswa-siswi SMA (sekolah menengah atas)  lebih tertarik pada musik Kontemporer/modern dibandingkan musik daerah. Kondisi ini dapat menyebabkan berkurangnya perhatian terhadap pelestarian budaya tradisional, termasuk musik kolintang.

Pelestarian musik kolintang sanggat penting karena merupakan bagian dari identitas budaya bangsa Indonesia. Generasi muda perlu juga mengenal setiap  budaya dari daerah masing-masing agar tidak kehilangan jati diri ditengah arus globalisasi, jika tidak dilestarikan, maka budaya dari setiap daerah terlebih khusus musik kolintang akan  mengalami kepunahan di masa yang akan mendatang.

(Ilustrasi, Foto : istimewa)

Sekolah Sebagai lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam memperkenalkan dan melestarikan budaya dari setiap daerah kepada generasi muda. Melalui kegiatan seni budaya, ekstrakurikuler, maupun pertunjukan sekolah, dan perlombaan antara sekolah yang ada, dari situ siswa dapat  mempelajari dan melestarikan budaya yang ada di setiap daerah termasuk mengenal dan mempelajari musik kolintang secara langsung dan mendalam.

Dengan demikian, pelestarian budaya kesenian tradisional di daerah bisa semakin berkembang dan maju termasuk musik kolintang yang di kalangan generasi muda SMA negeri 3 Manado menjadi hal yang sangat  penting untuk menjaga keberlangsungan budaya daerah Minahasa.

II. Metode
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif.

Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif ini dipilih untuk memperoleh gambaran yang mendalam mengenai upaya pelestarian musik kolintang di kalangan generasi muda, khususnya siswa-siswi yang ada disekolah  SMA Negeri 3 Manado. Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti memahami pengalaman, pandangan, serta keterlibatan siswa-siswi  dalam mempelajari dan memainkan musik  kolintang, Sebagai bagian dari pelestarian budaya, siswa-siswi mampuh memainkan musik kolintang secara ansambel dengan pembagian alat seperti melodi, alto, tenor, cello, dan bass. Mereka mempelajari teknik dasar memukul bilah kayu, membaca notasi sederhana, menjaga tempo, serta memainkan lagu-lagu daerah Minahasa seperti O Ina Ni Keke dan lagu-lagu nasional. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan bermusik dari siswa-siswi, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Minahasa dan mendorong generasi muda untuk terus melestarikan musik kolintang.

Lokasi penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 3 Manado, Sulawesi Utara. Objek penelitian meliputi kegiatan pembelajaran, latihan, dan penampilan musik kolintang yang diikuti oleh siswa-siswi.  Subjek penelitian terdiri atas guru seni budaya, pelatih musik kolintang, serta siswa-siswi yang mengikuti kegiatan atau extrakuliker yang ada disekolah SMA negeri 3 Manado.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui analisis data menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi dan lain-lain seperti:
• Observasi, yaitu mengamati secara langsung proses latihan dan permainan musik kolintang yang ada disekolah SMA negeri 3 Manado.
• Wawancara, yaitu dengan guru, pelatih, dan siswa mengenai upaya pelestarian musik kolintang serta minat dan bakat dari setiap generasi muda terhadap musik tradisional.
• Dokumentasi, berupa foto kegiatan, video penampilan, jadwal latihan, dan dokumen sekolah yang berkaitan dengan kegiatan musik kolintang.

(Ilustrasi, Foto : istimewa)

III. Hasil dan Pembahasan
A. Musik Kolintang sebagai Warisan Budaya Minahasa.
Kolintang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara, dan telah berkembang menjadi salah satu identitas budaya masyarakat setempat. Dalam perkembangannya, Kolintang tidak hanya dimainkan pada upacara adat, tetapi juga digunakan dalam kegiatan keagamaan, pertunjukan seni, festival budaya, dan pendidikan.

Pengakuan UNESCO terhadap Kolintang sebagai bagian dari Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada tahun 2024 menjadi tonggak penting bagi pelestarian musik tradisional Indonesia di tingkat internasional. Pengakuan tersebut sekaligus mendorong berbagai pihak untuk meningkatkan upaya pelestarian, terutama melalui pendidikan dan keterlibatan generasi muda.

B. Peran SMA negeri 3 Manado  dalam Pelestarian Musik Kolintang.
Sekolah Menengah Atas (SMA negeri 3 Manado)  memiliki peran penting sebagai lembaga pendidikan yang membentuk pengetahuan, keterampilan, dan karakter dari setiap peserta didik. Dalam konteks pelestarian budaya ini sekolah dapat menjadi tempat pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Pelestarian musik Kolintang di SMA negeri 3 Manado dapat dilakukan melalui beberapa program, antara lain:
• Pembelajaran Kolintang dalam mata pelajaran Seni Budaya.
• Kegiatan ekstrakurikuler Kolintang.
• Pentas seni dan festival budaya sekolah.
• Kolaborasi dengan sanggar seni, seniman, dan komunitas budaya.
• Partisipasi dalam lomba atau festival musik tradisional tingkat daerah maupun nasional.
• Melalui kegiatan tersebut, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis.

C. Nilai Edukatif Musik Kolintang bagi Peserta Didik SMA
Pembelajaran Kolintang memberikan berbagai manfaat pendidikan bagi peserta didik:

1. Penguatan Identitas Budaya.
Peserta didik mengenal sejarah dan nilai budaya Minahasa sehingga tumbuh rasa bangga terhadap identitas daerah serta kesadaran untuk melestarikan budaya bangsa.

2. Pengembangan Karakter.
Latihan Kolintang menanamkan disiplin, tanggung jawab, kerja keras, ketekunan, dan rasa percaya diri. Dalam permainan kelompok, peserta didik juga belajar menghargai peran setiap anggota.

3. Pengembangan Kemampuan Sosial.
Permainan Kolintang dilakukan secara ansambel sehingga membutuhkan komunikasi, kerja sama, dan kekompakan antarpemain. Hal ini melatih kemampuan berinteraksi dan menyelesaikan tugas bersama.

4. Pengembangan Kreativitas.
Peserta didik dapat mengembangkan aransemen lagu, mengombinasikan Kolintang dengan alat musik lain, atau mengadaptasi lagu daerah dan lagu modern tanpa menghilangkan karakter musik tradisional.

5. Pengembangan Keterampilan Bermusik.
Melalui latihan rutin, peserta didik mengembangkan kemampuan membaca ritme, memahami melodi, menjaga tempo, dan memainkan harmoni secara tepat.

(Ilustrasi, Foto : istimewa)

D. Tantangan Pelestarian Musik Kolintang di Kalangan Generasi Muda.
Meskipun memiliki nilai budaya yang tinggi, pelestarian musik Kolintang masih menghadapi beberapa tantangan, yaitu:
• Dominasi musik populer dalam kehidupan remaja.
• Kurangnya minat sebagian peserta didik terhadap musik tradisional.
• Keterbatasan alat musik Kolintang di beberapa sekolah.
• Terbatasnya guru atau pelatih yang memiliki kompetensi memainkan Kolintang.
• Kurangnya kegiatan apresiasi budaya yang berkelanjutan.
• Tantangan tersebut memerlukan kerja sama antara sekolah, pemerintah, komunitas seni, dan masyarakat.

E. Strategi Pelestarian Musik Kolintang di SMA negeri 3 Manado.
Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain:
• Memasukkan musik Kolintang dalam pembelajaran Seni Budaya.
• Membentuk ekstrakurikuler Kolintang yang aktif.
• Mengadakan festival Kolintang antarsekolah.
• Mengundang seniman dan maestro Kolintang sebagai narasumber.
• Memanfaatkan media digital untuk mendokumentasikan dan mempromosikan pertunjukan Kolintang.
• Mendorong kolaborasi antara musik tradisional dan musik modern agar lebih menarik bagi generasi muda.

IV. Kesimpulan
Musik Kolintang merupakan warisan budaya Minahasa yang memiliki nilai sejarah, seni, dan pendidikan yang sangat penting. Di lingkungan SMA negeri 3 Manado, pelestarian musik Kolintang dapat dilakukan melalui pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, pertunjukan seni, dan kerja sama dengan berbagai pihak. Selain meningkatkan keterampilan bermusik, pembelajaran musik Kolintang juga membentuk karakter, memperkuat identitas budaya, mengembangkan kreativitas, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Indonesia. Dengan dukungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah, generasi muda diharapkan menjadi pelaku utama dalam menjaga keberlangsungan musik Kolintang sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi bagi bangsa Indonesia.

V. Kepustakaan
Amanat, M. S. H., dkk. (2025). Kolintang Minahasa: From Cultural Heritage to A Global Instrument in Inclusive Music Education and Cultural Diplomacy. Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 25(2).
• Djohan. (2009). Psikologi Musik. Yogyakarta: Best Publisher.
• Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2024). Informasi mengenai pengakuan Kolintang sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
• Suyadi. (2014). Teori Pembelajaran Anak Usia Dini. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
• Hartono, M. S., Septiyaningsih, I. C., Aditia, D., Widyaatmadja, S. T., Setiawan, R., & Sinaga, R. M. (2025). Kolintang Minahasa: From Cultural Heritage to A Global Instrument in Inclusive Music Education and Cultural Diplomacy. Harmonia: Journal of Arts Research and Education, 25(2)
• Hendrik, N., Goni, S. Y. V. I., & Pongoh, H. W. (2016). Pelestarian Musik Kolintang di Desa Maumbi Kecamatan Kalawat. Acta Diurna Komunikasi, 5(5).
• Rumengan, P., & Hartati, D. S. (2020). Transmutasi, Satu Proses Lahirnya Genre Musik Baru: Studi Tentang Kelahiran Ansambel Musik Kolintang Kayu, Satu Genre Musik di Minahasa. Clef: Jurnal Musik dan Pendidikan Musik, 1(2).
• Windewani, M. B. G., & Mistortoify, Z. (2022). Perubahan Fungsi Musik Kolintang di Desa Lembean Minahasa Utara. Gondang: Jurnal Seni dan Budaya,
• Wullur, G. C., Semuel, O. W., & Indriyanto, M. N. (2021). Pelestarian Musik Kolintang Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya di Kabupaten Minahasa Utara Pasca Covid-19. Skripsi. Universitas Katolik De La Salle Manado.
• Sugiyono. (2022). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
• Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.