BisnisManado.com, Jakarta – Harga emas yang sempat menyentuh rekor US$4.380 per ons pada 20 Oktober lalu memang sempat terkoreksi lebih dari 10%. Namun, logam mulia ini kembali memanjat naik, stabil di level sekitar US$4.044—atau 54% lebih mahal dibanding awal tahun. Sejumlah analis bahkan menilai emas berpotensi menembus US$5.000 per ons pada akhir 2026, sebuah ekspektasi yang beberapa tahun lalu dianggap mustahil.

Menurut laporan CNBC Indonesia (22/11/2025), reli harga emas tahun ini terjadi di saat yang tak biasa. Tidak ada resesi, tidak ada pelarian modal besar-besaran, dan indeks saham AS justru melejit lebih dari 30%. Di sisi lain, ketidakpastian global terus menebal—mulai tensi geopolitik, konflik dagang, hingga kekhawatiran gelembung sektor teknologi.

 

Investor Institusional Mulai Cari “Benteng Aman”

Investor besar, seperti dana pensiun dan manajer aset global, kembali memposisikan emas sebagai perlindungan nilai. Emas dianggap lebih stabil ketika risiko makin sulit diprediksi.

CNBC Indonesia mencatat bahwa naiknya harga emas sejak Maret 2024 terjadi meski ekonomi tidak berada dalam tekanan besar. Indeks S&P 500 tetap kuat, suku bunga riil tinggi, namun sentimen waspada investor meningkat.

Ketegangan dagang AS–Tiongkok, konflik di Eropa dan Timur Tengah, hingga kekhawatiran koreksi besar saham teknologi, membuat emas kembali jadi pilihan konservatif.

 

Bank Sentral Masih Berperan, Meski Tak Sedominan yang Diduga

Narasi bahwa harga emas terbang karena aksi beli besar-besaran bank sentral dunia memang populer. Namun data tidak sepenuhnya mendukung.

Dalam ulasan CNBC Indonesia, disebutkan bahwa bukti massifnya pelepasan aset dolar dan pembelian emas belum terlihat secara jelas. Dolar AS masih relatif stabil, sementara imbal hasil obligasi AS juga tidak melonjak.

Pembelian emas oleh bank sentral memang ada, terutama negara berkembang. Namun IMF mencatat bahwa volume pembelian justru melambat dibanding tahun lalu—dan banyak didominasi hanya oleh sedikit negara.

 

Ledakan Spekulan dan Ritel: Pemicu Kenaikan yang Paling Nyata

Aktor yang paling menonjol dalam reli emas saat ini justru spekulan. Berdasarkan data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas Amerika (CFTC), posisi “long” hedge fund pada kontrak emas mencapai rekor 200.000 kontrak, setara 619 ton.

CNBC Indonesia menuliskan bahwa arus masuk dana ke ETF emas juga melonjak, meski sempat melemah di akhir bulan. Perubahan arus ETF ini sangat memengaruhi fluktuasi harga emas dalam jangka pendek.

Dengan kata lain, apa yang awalnya dipicu oleh bank sentral kini berubah menjadi hiruk-pikuk ritel dan spekulan yang mengejar momentum. Permintaan tinggi dari kelompok ini menjadi “bahan bakar” utama yang terus mendorong harga emas mendaki.

 

Ke Depan, Apakah Emas Masih Akan Terbang?

Jika ketidakpastian global berlanjut dan spekulan tetap agresif, harga emas berpotensi terus bergerak naik. Meski demikian, volatilitas tinggi tetap harus diwaspadai.

Untuk saat ini, emas masih menjadi primadona bagi investor besar maupun ritel, seiring pasar global yang terus diliputi ketidakpastian.

 

(**/Bis)