BisnisManado.com, Manado — Kalau biasanya festival literasi identik dengan buku dan diskusi, kali ini suasananya beda. Opening Festival Literasi Sulut 2026 langsung dibuat seru oleh penampilan Dewi Lestari alias Dee Lestari.

Dee tiba-tiba muncul dari tengah videotron yang terbelah di depan panggung. Dengan mini dress cokelat dan selendang yang melingkar di pinggang, ia langsung bikin suasana pecah. Penonton bersorak, lalu ikut bernyanyi.

Tiga lagu dibawakan Dee malam itu. Ada Firasat, Perahu Kertas, dan Malaikat Juga Tahu. Lagu-lagu yang sudah akrab di telinga penonton itu terasa makin dekat karena dinyanyikan langsung oleh penciptanya.

TAMPIL, Penampilan Dee Lestari pada malam pembukaan Festival Literasi Sulut 2026. (bim)

Yang bikin makin seru, saat lagu kedua, Dee turun dari panggung dan mengajak penonton bernyanyi bersama. Ketua dan Sekretaris Putra Putri Literasi Sulawesi Utara (PPLSU), Standius Bara Prima dan Faradilla Bachmid, ikut mendapat kesempatan bernyanyi bersama Dee.

Di sela penampilan, Dee juga memberikan apresiasi kepada para pejuang literasi Sulut.
Pesannya sederhana yang tersirat, jangan berhenti membaca, jangan takut menulis dan jangan ragu berkarya.

Dee berharap kegiatan seperti ini bisa berkembang dan terus digelar karena literasi bukan cuma soal duduk membaca buku. Dari membaca dan menulis, anak muda bisa menemukan ide, membuat karya, bahkan mengubahnya menjadi musik, film atau karya kreatif lainnya.

AJAK, Dee Lestari ajak ketua PPLSU Standius Bara Prima bernyayi bersama. (bim)

Semangat itulah yang ingin dibawa Festival Literasi Sulut. Digagas PPLSU Sulut bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Sulut, festival ini diisi workshop, talk show, bazar buku, bazar UMKM hingga hiburan musik.

Faradilla Bachmid mengatakan, Dee Lestari dipilih karena perjalanan karyanya cukup lengkap. Ia dikenal sebagai penyanyi, penulis sekaligus pencipta lagu. Beberapa karyanya bahkan sudah diangkat ke layar lebar.

“Kami ingin anak muda Sulut melihat bahwa literasi itu luas. Dari membaca dan menulis, bisa lahir banyak karya dan peluang,” ucap Dila panggilan Faradilla.

Jadi, literasi tidak harus selalu serius dan kaku. Bisa sambil ngobrol, berdiskusi, menikmati musik, lalu pulang membawa satu ide baru.

Karena siapa tahu, dari satu buku yang kita baca hari ini, satu tulisan yang kita buat, atau satu ide yang kita berani mulai, besok bisa lahir sebuah karya.

 

(bim)