Penulis Devina Firginia Makasala
Mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado
email: [email protected]

Abstrak
Musik memiliki peran penting dalam membentuk suasana emosional seseorang, termasuk dalam konteks ruang publik seperti kafe. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak pemilihan lagu terhadap perubahan suasana hati customer di Kafe Moro, Manado, serta menganalisis pengaruh perbedaan genre musik terhadap kenyamanan dan pengalaman pelanggan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap seorang customer dan seorang barista Kafe Moro, didukung studi pustaka dari jurnal, buku, dan sumber elektronik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik yang diputar di Kafe Moro, terutama genre pop akustik, jazz santai, dan lo-fi, memberikan efek menenangkan dan membangun suasana nyaman bagi pengunjung, sementara musik dengan tempo cepat cenderung meningkatkan semangat namun berpotensi mengganggu kenyamanan pengunjung yang datang untuk bekerja atau bersantai. Ditemukan pula bahwa lirik lagu yang bernuansa sedih dapat memicu suasana hati melankolis pada sebagian pelanggan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemilihan musik latar merupakan strategi atmosfer penting bagi pengelola kafe dalam membangun pengalaman emosional pelanggan yang positif.

I. Pendahuluan
Musik adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Musik telah menjadi bagian seni yang mewarnai kehidupan sehari-hari manusia di muka bumi ini, dan dalam perjalanannya musik memiliki dampak positif maupun negatif bagi pendengarnya. Dampak positif musik antara lain memotivasi, membangkitkan semangat, mengembalikan mood, menenangkan pikiran, menginspirasi, membantu mengendalikan emosi, dan menumbuhkan kreativitas. Di sisi lain, musik juga dapat membawa dampak negatif apabila pendengarnya terbawa suasana secara berlebihan, misalnya pada musik beralun melow atau berlirik sedih yang dapat mendorong munculnya kesedihan mendalam pada pendengar yang rentan secara emosional. Hal ini terjadi karena rangsangan audio diproses oleh sistem limbik di otak, area yang bertanggung jawab atas regulasi emosi, memori, dan perilaku . Berbagai kajian psikologi lingkungan dan perilaku konsumen membuktikan bahwa musik mampu memodifikasi suasana hati secara signifikan , sehingga dengan banyaknya ragam genre lagu pada saat ini, musik menjadi salah satu komponen atmosfer yang berpengaruh kuat di sebuah kafe.

Kafe saat ini telah berkembang menjadi lebih dari sekadar tempat menikmati makanan dan minuman. Bagi anak muda masa kini, kafe adalah ruang sosial, tempat bekerja, belajar, sekaligus sarana mengekspresikan gaya hidup. Itulah sebabnya pertumbuhan kafe di Indonesia semakin pesat dan memunculkan berbagai konsep unik yang bersaing menarik perhatian generasi muda, salah satunya Kafe Moro yang berada di Manado, Sulawesi Utara. Kafe Moro awalnya adalah rumah kosong yang disewakan kepada saudara Sam Rambu Jagat, berlokasi di Jl. Pangeran Hidayat No. 7, Mahakam, Kecamatan Singkil, dengan desain interior bergaya rumah era 1970-an. Musik dan kafe menjadi dua hal yang sulit dipisahkan di kalangan anak muda masa kini, di mana kafe menjadi tempat bersosialisasi, membaca buku, dan melepas penat setelah menjalani hari yang melelahkan. Musik latar berperan penting dalam membentuk suasana dan pengalaman pengunjung di berbagai tempat komersial, termasuk kafe, sehingga dapat memperpanjang waktu kunjungan dan meningkatkan kepuasan pengunjung. Ditemani musik dan kopi, dunia terasa lebih baik dari sebelumnya, namun pertanyaannya, jenis musik seperti apa yang benar-benar membangun suasana hati positif itu?

(Foto : Official Instagram account Moro Ngopi)

1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh musik yang diputar di Kafe Moro terhadap perubahan suasana hati pelanggan?
2. Apakah perbedaan genre musik yang diputar memengaruhi kenyamanan dan pengalaman pelanggan di Kafe Moro?
3. Sejauh mana musik latar di Kafe Moro berperan dalam membentuk pengalaman pelanggan sebagai ruang sosial, bekerja, dan bersantai?
4. Apakah terdapat dampak negatif dari pemilihan musik tertentu terhadap kondisi emosional pelanggan di Kafe Moro?

1.3. Tujuan
Dari rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengaruh musik yang diputar di Kafe Moro terhadap perubahan suasana hati pelanggan.
2. Menganalisis pengaruh perbedaan genre musik terhadap kenyamanan dan pengalaman pelanggan di Kafe Moro.
3. Mendeskripsikan peran musik latar dalam membentuk pengalaman pelanggan sebagai ruang sosial, bekerja, dan bersantai di Kafe Moro.
4. Mengidentifikasi potensi dampak negatif dari pemilihan musik tertentu terhadap kondisi emosional pelanggan di Kafe Moro.

1.4. Manfaat
Manfaat dilakukannya penelitian ini yaitu:
1. Menjadi bahan referensi akademik mengenai relasi musik dan psikologi konsumen di ruang kafe.
2. Melatih kemampuan menyusun penelitian ilmiah mulai dari latar belakang, rumusan masalah, pengumpulan data, hingga analisis.
3. Secara tidak langsung, penelitian ini membantu menciptakan pengalaman berkunjung yang lebih nyaman karena pihak kafe dapat menyesuaikan musik dengan preferensi pelanggan.

II. Metode
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan berdasarkan artikel, jurnal, serta beberapa buku yang diterbitkan melalui internet maupun media elektronik, dan juga wawancara terhadap customer serta barista Kafe Moro. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan memahami fenomena secara mendalam pada latar alamiah (natural setting), di mana studi kasus menempatkan suatu objek sebagai unit analisis yang dipahami secara menyeluruh dan kontekstual.

Dalam metode ini, disajikan terlebih dahulu pengertian tentang musik, Kafe Moro, dan customer sebagai dasar pembahasan. Penulis menggunakan cara mewawancarai seorang customer sebagai penikmat musik dan seorang barista sebagai pemutar musik. Beberapa pertanyaan diajukan kepada kedua narasumber tersebut untuk menggali pengalaman dan persepsi mereka.

(Foto : Official Instagram account Moro Ngopi)

1. Ruang Lingkup
Dalam studi kasus, proses penelitian kualitatif sering bersifat siklis dan reflektif, di mana coding awal mengarah pada modifikasi fokus penelitian dan wawasan yang lebih dalam. Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada kajian kualitatif tentang pengalaman subjektif customer Kafe Moro terkait perubahan suasana hati akibat pemilihan lagu yang diputar oleh pihak kafe. Penelitian kualitatif menekankan pencarian makna, pengertian, konsep, karakteristik, gejala, simbol, atau deskripsi peristiwa yang bersifat alami, kemudian disajikan dalam bentuk kata-kata.

Penelitian ini dibatasi pada tiga aspek. Pertama, aspek musik, meliputi jenis genre, tempo/BPM, dan lirik lagu yang diputar Kafe Moro pada jam operasional siang-malam, yaitu pukul 11.00–00.00 WITA. Kedua, aspek psikologis, yaitu respons emosional customer berupa perasaan rileks, semangat, nostalgia, nyaman, atau gelisah yang diungkapkan secara verbal maupun non-verbal. Ketiga, aspek lokasi, yaitu area indoor Kafe Moro sebagai setting alamiah tempat fenomena terjadi.

2. Objek Penelitian
Objek penelitian dibagi menjadi dua, yaitu subjek dan objek material:
1. Subjek penelitian adalah customer Kafe Moro yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria subjek yaitu berusia 18–35 tahun karena kelompok ini dominan menghabiskan waktu di kafe, memiliki durasi kunjungan minimal 30 menit agar terpapar setidaknya 5–7 lagu, serta bersedia diwawancarai dan memberikan informasi.
2. Objek material penelitian adalah barista Kafe Moro selaku pihak yang menentukan dan memutar playlist musik selama jam operasional, sehingga dapat memberikan gambaran mengenai pertimbangan pemilihan lagu di kafe tersebut.

Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur, observasi partisipatif terhadap suasana kafe selama jam operasional, dan studi dokumentasi berupa catatan lapangan. Analisis data mengikuti tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sehingga temuan wawancara dapat dikaitkan secara sistematis dengan rumusan masalah penelitian.

III. Hasil dan Pembahasan
3.1. Gambaran Musik yang Diputar di Kafe Moro
Berdasarkan hasil wawancara dengan barista Kafe Moro, musik yang diputar tidak dipilih secara acak, melainkan disesuaikan dengan waktu kunjungan dan suasana yang ingin dibangun pada setiap sesi operasional. Pada siang hingga sore hari, kafe memutar musik bertempo santai seperti jazz ringan dan lo-fi dengan kisaran 70–95 BPM untuk mendukung suasana kerja dan mengobrol tenang, sedangkan menjelang malam tempo musik dinaikkan menjadi pop akustik dan city pop yang lebih hangat dan energik. Barista menjelaskan bahwa pemilihan playlist ini dilakukan melalui layanan streaming musik dan disusun berdasarkan pengamatan langsung terhadap respons pengunjung dari hari ke hari, bukan sekadar mengikuti tren lagu yang sedang populer. Pola kurasi semacam ini sejalan dengan prinsip penyesuaian tempo dan genre musik dengan target suasana usaha kuliner , di mana musik dengan tempo terlalu cepat pada jam santai justru dapat mengganggu kenyamanan pengunjung yang datang untuk bekerja maupun mengobrol.

Selain tempo dan genre, volume musik turut menjadi perhatian pihak kafe. Pada jam siang, volume musik dijaga tetap rendah agar tidak mengganggu percakapan maupun aktivitas mengerjakan tugas, sementara pada malam hari volume sedikit dinaikkan untuk membangun suasana yang lebih hidup dan sosial. Musik yang dipilih pun didominasi oleh musisi indie lokal maupun mancanegara dengan aransemen instrumental yang tidak terlalu ramai, sehingga tetap nyaman didengarkan dalam waktu lama tanpa membuat pengunjung merasa lelah secara auditif.

Tabel 1. Genre dan Tempo Musik di Kafe Moro Berdasarkan Waktu Operasional (Hasil wawancara dan observasi peneliti, 2025

3.2. Pengaruh Musik terhadap Suasana Hati Pelanggan
Wawancara dengan seorang customer Kafe Moro mengungkapkan bahwa musik bertempo santai dengan melodi hangat membuatnya merasa lebih rileks dan betah berlama-lama, sementara lagu-lagu dengan lirik sedih sesekali membangkitkan rasa nostalgia bahkan haru. Informan menuturkan bahwa pada saat datang dalam kondisi lelah setelah beraktivitas seharian, musik bertempo lambat justru membantunya menenangkan pikiran terlebih dahulu sebelum ia merasa nyaman berbincang dengan teman, sedangkan pada kunjungan lain yang bertujuan untuk mengerjakan tugas, ia lebih memilih duduk pada jam ketika musik instrumental tanpa lirik sedang diputar agar tetap fokus. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa musik dengan tempo cepat dan melodi ceria cenderung meningkatkan semangat, sedangkan musik lambat dan melankolis dapat menenangkan atau justru memicu refleksi emosional pendengarnya . Hal ini terjadi karena stimulus audio diproses langsung oleh area otak yang mengatur emosi dan memori, sehingga preferensi musik seseorang turut memengaruhi seberapa kuat respons emosional yang muncul.

Lebih lanjut, informan juga menyebutkan bahwa efek musik terhadap suasana hatinya tidak selalu instan, tetapi terbangun secara bertahap seiring berjalannya waktu kunjungan. Pada 10–15 menit pertama, musik masih berperan sebagai latar yang tidak terlalu disadari, namun setelah beberapa lagu berlalu, ia mulai menyadari perubahan suasana hatinya, misalnya dari tegang menjadi lebih tenang. Hal ini menunjukkan bahwa durasi paparan musik turut berperan penting, sejalan dengan sifat kumulatif pengaruh musik terhadap emosi yang dibangun melalui pengulangan dan asosiasi personal terhadap suatu lagu atau genre tertentu.

3.3. Perbedaan Genre Musik dan Kenyamanan Pelanggan
Perbedaan genre musik terbukti memengaruhi kenyamanan pelanggan secara berbeda-beda. Konsep musicscape menjelaskan bahwa genre, tempo, harmoni, dan volume musik merupakan empat elemen yang bersama-sama membentuk pengalaman dan kepuasan pengunjung di sebuah kafe. Temuan serupa juga menunjukkan bahwa tempo, volume, dan genre musik berpengaruh signifikan terhadap perilaku dan kenyamanan konsumen di kafe maupun pub . Pada konteks Kafe Moro, informan menyatakan bahwa musik instrumental dan akustik terasa lebih nyaman untuk mengobrol dan bekerja, sedangkan musik dengan beat yang terlalu keras dirasa kurang sesuai pada jam-jam santai siang hari.

Perbandingan antar genre juga menunjukkan pola yang cukup konsisten. Musik jazz dan lo-fi dinilai paling nyaman untuk aktivitas yang membutuhkan konsentrasi, seperti mengerjakan tugas atau membaca, karena tidak terlalu banyak menuntut perhatian pendengar. Musik pop akustik dan indie dianggap paling pas untuk mengobrol santai karena melodinya cukup ekspresif namun tidak mendominasi percakapan. Sebaliknya, musik ber-genre city pop atau pop upbeat dengan tempo tinggi cenderung kurang cocok apabila diputar pada siang hari, karena menurut informan dapat menimbulkan kesan terburu-buru yang bertentangan dengan tujuan sebagian pengunjung yang ingin bersantai. Perbedaan ini menegaskan bahwa kenyamanan pelanggan tidak semata ditentukan oleh kualitas musik itu sendiri, melainkan oleh kesesuaian antara genre musik dan aktivitas yang sedang dilakukan pelanggan.

3.4. Musik sebagai Pembentuk Pengalaman Ruang Sosial
Musik latar di Kafe Moro turut membentuk pengalaman pelanggan sebagai ruang sosial, tempat bekerja, sekaligus tempat bersantai. Musik yang konsisten dan sesuai konteks waktu membantu menciptakan atmosfer yang mendukung interaksi sosial antarpelanggan, memperpanjang durasi kunjungan, dan pada akhirnya meningkatkan kepuasan serta loyalitas pelanggan terhadap kafe tersebut.

Dari hasil wawancara, terlihat bahwa peran musik berbeda-beda bergantung pada tujuan kunjungan pelanggan. Bagi pelanggan yang datang untuk mengerjakan tugas atau bekerja, musik instrumental yang tenang membantu menciptakan suasana seperti ruang kerja pribadi tanpa terasa sepi. Bagi pelanggan yang datang bersama teman, musik dengan melodi yang lebih hidup membantu mencairkan suasana dan mendorong percakapan yang lebih santai. Sementara itu, pada malam hari ketika pengunjung didominasi kelompok yang datang untuk bersosialisasi, musik dengan tempo lebih cepat turut membangun suasana kebersamaan yang hangat. Dengan demikian, musik latar di Kafe Moro tidak hanya berfungsi sebagai pengiring, tetapi juga sebagai elemen yang membentuk identitas ruang sosial kafe pada setiap waktu kunjungan.

3.5. Dampak Negatif Pemilihan Musik Tertentu
Meskipun secara umum musik memberi dampak positif, penelitian ini juga menemukan potensi dampak negatif apabila pemilihan musik tidak memperhatikan konteks pengunjung. Musik dengan tempo terlalu cepat pada jam operasional yang seharusnya santai dapat mengurangi kenyamanan pelanggan yang datang untuk bekerja atau mengobrol tenang, karena ritme yang cepat cenderung memecah konsentrasi dan menimbulkan kesan terburu-buru. Hal ini menegaskan pentingnya kurasi musik yang selaras dengan karakter waktu kunjungan dan profil pelanggan.

Selain itu, musik dengan lirik yang sangat sedih berpotensi memperkuat perasaan sendu pada pelanggan yang kebetulan sedang berada dalam suasana hati yang kurang baik, sehingga suasana melankolis tersebut dapat berlarut alih-alih mereda. Informan menyebutkan bahwa pada satu kesempatan, lagu dengan lirik yang menyentuh sempat membuatnya termenung cukup lama meskipun ia datang ke kafe untuk menenangkan diri. Temuan ini sejalan dengan pemahaman bahwa musik dapat memengaruhi suasana hati pendengar secara dua arah, baik meredakan maupun memperberat perasaan tertentu, bergantung pada kondisi emosional pendengar saat itu. Oleh karena itu, pengelola kafe perlu bersikap bijak dalam menempatkan lagu-lagu semacam ini, misalnya dengan tidak memutarnya secara berturut-turut, agar suasana emosional pelanggan tetap terjaga secara positif sepanjang waktu kunjungan.

IV. Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa pemilihan lagu di Kafe Moro memberikan dampak nyata terhadap suasana hati pelanggan. Musik bertempo santai seperti jazz ringan, lo-fi, dan pop akustik cenderung menciptakan rasa nyaman, rileks, dan hangat, sementara musik bertempo cepat lebih cocok membangun suasana bersemangat pada jam-jam sosial di malam hari. Perbedaan genre musik juga memengaruhi kenyamanan dan pengalaman pelanggan secara berbeda, sejalan dengan konsep musicscape yang menekankan peran tempo, genre, harmoni, dan volume dalam membentuk pengalaman ruang kafe.

Di sisi lain, penelitian ini juga mengidentifikasi potensi dampak negatif apabila musik yang diputar tidak disesuaikan dengan konteks waktu dan kebutuhan pelanggan, misalnya musik bertempo cepat pada jam santai atau lagu berlirik sedih yang memicu suasana hati melankolis. Dengan demikian, pengelola Kafe Moro maupun kafe-kafe lain disarankan untuk mengelola musik latar secara lebih terencana sebagai bagian dari strategi atmosfer, guna membangun pengalaman emosional yang positif dan berkelanjutan bagi pelanggan.

V. Daftar Pustaka
– Amelia, Cevy, dkk. 2022. “Pengaruh Musik terhadap Emosi.” Jurnal Ilmiah Zona Psikologi, Vol. 4 No. 3.
– Andaryani, Endah Tri. 2019. “Pengaruh Musik dalam Meningkatkan Mood Booster Mahasiswa.” Musikolastika, 1(2): 109–115.
– “Musik Tepat untuk Coffee Shop, Fine Dining, dan Fast Food.” dimultimusic.co.id. Diakses 8 Juli 2026.
– Pasaribu, A. P., Tamba, G. M., & Pasaribu, K. L. 2025. “Dampak Musik pada Perubahan Suasana Hati.” Jurnal Pendidikan Indonesia, Vol. 6 No. 4.
– Qodri, Rahmat Mulia, & Wulansari, Nidia. 2025. “Analisis Musicscape terhadap Kepuasan Konsumen di Parewa Coffee Bandar Purus Padang.” Jurnal Manajemen Pariwisata dan Perhotelan, Vol. 3 No. 1: 71–77.
– Selviana. 2018. “Pengaruh Tempo Musik, Volume Musik, dan Genre Musik terhadap Perilaku Pembelian Konsumen pada Lucifer Café and Pub di Yogyakarta.” [Skripsi]. Yogyakarta: Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.
– Sugiyono. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Informan/Narasumber:
R.M. (24 tahun). Customer Kafe Moro, Manado. Wawancara pribadi, 2025.
A.P. (26 tahun). Barista Kafe Moro, Manado. Wawancara pribadi, 2025.