BisnisManado.com, Donggala — PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sulawesi terus memperkuat peran sosialnya melalui program pemanfaatan limbah industri ramah lingkungan. Kali ini, PLN menggandeng BUMDes Bina Mulia, Desa Lero Tatari, Kabupaten Donggala, dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk mengolah Fly Ash Bottom Ash (FABA) dari PLTU Palu 3 menjadi produk bernilai guna seperti paving block dan batako.

Langkah ini menjadi wujud nyata penerapan ekonomi sirkular di sektor energi sekaligus menjadi solusi inovatif terhadap isu pengelolaan limbah. Melalui pendekatan kolaboratif, PLN tidak hanya menyediakan bahan baku dan peralatan produksi, tetapi juga membekali masyarakat dengan pelatihan dan sertifikasi terkait pengolahan FABA.

General Manager PLN UIP Sulawesi, Wisnu Kuntjoro Adi, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang PLN untuk memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat di sekitar wilayah operasional.

PLN Manfaatkan FABA untuk Paving Block dan Batako (dok. PLN)

“Dengan beroperasinya PLTU Palu 3, masyarakat Donggala tidak hanya mendapat suplai listrik andal, tetapi juga dampak positif yang lebih luas. Pemanfaatan FABA membuka peluang usaha baru sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. Kami berharap program ini dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat secara berkelanjutan,” jelas Wisnu dalam keterangan tertulis (26/9/2025).

Saat ini program masih berada pada tahap awal pelatihan. Para peserta diajarkan proses pembuatan batako dan paving block menggunakan mesin yang telah disiapkan oleh PLN. Selain itu, sarana produksi juga direnovasi guna memastikan kesiapan operasional jangka panjang.

Ketua BUMDes Bina Mulia, Aski, menyampaikan antusiasme dan rasa terima kasih atas kesempatan tersebut.’

PLN Manfaatkan FABA untuk Paving Block dan Batako (dok PLN)

“PLN bukan hanya membantu dengan sarana, tetapi juga membangun kapasitas masyarakat. Pelatihan yang sudah diberikan membuka wawasan dan keterampilan baru bagi warga. Kami percaya ini adalah langkah awal agar UMKM desa bisa lebih mandiri ke depannya,” ujarnya.

Diharapkan ke depan, BUMDes mampu menjalankan unit usaha berbasis FABA secara mandiri dan berkelanjutan. Selain memperkuat fondasi ekonomi lokal, program ini juga membuka jalan bagi terciptanya lapangan kerja baru dan mendukung upaya transisi menuju pembangunan desa berbasis ekonomi hijau.

(rls/thw)